Akreditasi Turun, Masa Depan Sarjana Bagaimana?

Sumber : Google.com

Sumber : Google.com

 

Masih segar dalam ingatan ketika beberapa hari lalu kita mendengar berita mengenai turunnya akreditasi sebuah instansi pendidikan di Jakarta. Berita tersebut pun cukup membuat beberapa pihak terkesiap. Tidak berhenti sampai di situ, pembahasan akan semakin menarik jika kita menarik sorotan dari segi kesalahan sebagian ‘oknum’ namun berdampak pada institusi secara keseluruhan. Cukup ‘menggelitik’ sebagian dari kita bukan? Hingga, istilah ‘karena nila setitik, rusak susu sebelangga’ pun sering mencuat belakangan ini. Namun, yang akan penulis bahas di sini bukan terkait kasus ‘oknum-oknum’ di atas, namun lebih mencecar soal ‘Nama Baik Kampus’ itu sendiri.

Nama baik sebuah kampus atau instansi saat ini, seringkali digunakan oleh sebagian masyarakat untuk menilai baik dan buruknya sebuah instansi. “Oh lulusan instansi ini, wah bagus nih masa depannya cerah”, begitu ucap salah satu pihak. “Wah dari instansi ini ya? Recommended nih kayanya buat masuk ke sini”, begitu ujar yang lain. Namun lagi-lagi, apakah benar ‘iming-iming’ nama baik instansi ini dapat menjamin baiknya kinerja seseorang?

Dalam beberapa kesempatan, penulis seringkali mengikuti berbagai kegiatan volunteer dengan berbagai macam orang yang mempunyai latar belakang berbeda-beda. Dalam beberapa kesempatan pula, penulis seringkali menemukan bahwa masih ada sebagian penyeleksi volunteer yang menggunakan nama baik kampus ini sebagai bahan pertimbangan, tanpa melihat sama sekali pengalaman seseorang.

Sekarang, mari kita bahas bersama terkait kinerja atau banyak dari kalangan kita menyebutnya dengan kontribusi. Jika berbicara tentang kontribusi, maka bukan lagi nama baik instansti yang bermain, namun lebih menjurus pada bagaimana seseorang dapat membuat dirinya bermanfaat bagi organisasi. Jika sudah begini, setiap gerak-gerik individu dalam memberikan sumbangsih kebermanfaatan diri menjadi sorotan. Apakah kamu seseorang yang dapat memenuhi setiap ucapanmu? Atau sering alpa dalam menjalani janji? Itu semua akan terkuak dan lambat laun menjadi branding bagi diri kita.

Dalam falsafah bisnis, branding ini dapat kita sebut dengan goodwill diri. Setiap perusahaan multinasional yang sudah ada saat ini pun pasti mempunyai goodwill atau nama baik di mata masyarakat. Itu sebabnya mereka dapat menjadi perusahaan multinasional, karena mereka adalah beberapa perusahaan yang lolos dari penilaian nama baik di mata masyarakat. Tidak berbeda jauh dengan sebuah instansti atau perusahaan, goodwill diri kita pun harus terus diperjuangkan dengan memberikan kontribusi terbaik bagi instansi di mana kita berdiri. Mungkin beberapa dari kita belum bisa menuai manfaat goodwill diri ini sekarang. Namun lambat laun, goodwill duri inilah yang akan menjadi modal kita untuk membangun kepercayaan dan relasi dengan berbagai kalangan beberapa tahun ke depan.

Dari apa-apa yang telah dipaparkan di atas, dapat kita simpulkan bahwa tidak perlu lagi kita membawa ‘embel-embel’ instansi sebagai bayang-bayang diri kita. Cukup jadilah seseorang yang mempunyai goodwill diri yang baik dengan berbagai prestasi serta berbagai keahlian diri. Karena goodwill diri ini jugalah yang akan membuat harum nama kampus atau instansimu, bukan yang lain. Sudah jelas bahwa orang-orang dengan goodwill diri yang baik tidak perlu lagi mengkhawatirkan soal turunnya akreditasi sebuah instansi bukan?

Untuk itu, yuk, sama-sama kita menjadi sosok yang selalu memberikan kontribusi terbaik di manapun diri kita berada! Karena apa-apa yang kita tunjukan sebagai kinerja kita saat ini, akan berdampak pada nama baik instansi di mana kamu berada. Salam manfaat, salam semangat. Semoga Allah jaga kita untuk jadi sosok yang selalu bermanfaat. (al)