Apakah Hanya Formal

apakah hanya formal

 

“Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya.” – UU 20 Tahun 2003

Membangun kembali paradigma kita kembali bahwa saat ini kita telah melupakan jalan pendidikan yang telah diatur oleh undang-undang yang ada di Negara kita. Bahwa Pendidikan bukan hanya tentang pendidikan saat kita di sekolah. Tetapi seharusnya mencakup lingkungan dan dari instansi yang terkecil yaitu keluarga.

Kita bisa melihat saat ini ada kesenjangan antara pendalaman kompetensi yang dimiliki oleh anak didik yang berada di Indonesia. Anak Indonesia saat ini dibebankan oleh beban kognitif yang menjadi momok dalam kesehariannya. Tapi kita melupakan tentang softskill. Bahkan melupakan bagaimana cara membangun sikap dari anak.

“Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya.” – UU 20 Tahun 2003

Dari aspek yang paling kecil yaitu pembentukan karakter seharusnya mendapatkan porsi yang lebih banyak. Daripada hanya membangun kognitif seorang anak. Dan ini sudah mengakar di dalam masyarakat kita. Sehingga sulit untuk mengubahnya.

Maka dari itu undang-undang sudah mengatur bagaimana mendapatkan stabilitas di dalam pendidikan sehingga tidak terjadi ketimbangan di satu sisi saja. Maka dari itu diperkenalkan pendidikan diluar pendidikan formal. Yaitu, pendidikan non formal dan pendidikan informal.

Philip Coombs dan Manzoor A., P.H. (1985) dalam bukunya The World Crisis In Education mengungkapkan pendidikan itu pada dasarnya dibagi menjadi tiga jenis, yakni Pendidikan Formal (PF), Pendidikan Non Formal (PNF) dan Pendidikan In Formal (PIF). Khusus untuk PNF, Coombs mengartikannya sebagai sebuah kegiatan yang diorganisasikan diluar sistem persekolahan yang mapan, apakah dilakukan secara terpisah atau bagian terpenting dari kegiatan yang lebih luas dilakukan secara sengaja untuk melayani anak didik tertentu untuk mencapai tujuan belajarnya.

Ini menjadi permasalahan yang penting saat ini ketika paradigma masyarakat, orang yang berpendidikan adalah orang yang menjalani pendidikan formal saja. Sehingga pendidikan lain diabaikan. Karena paradigma inilah makna pendidikan di Indonesia menjadi sempit dan tidak lagi luas. Sehingga Sumber daya manusi yang diciptakan menjadi tidak professional.

Karena keterbatasan makna pendidikan di Indonesia ini juga menyebabkan sudut pandang orang yang terpelajar menjadi dipersempit. Sehingga orang yang terpelajar haruslah orang yang sudah menjalani pendidikan formal. Efek pasca itu akhirnya menimbulkan pendidikan formal yang tidak serius dalam prosesnya.

Kenapa? Karena fokusan saat menjalankan pendidikan formal hanya untuk gelar. Sehingga output nya tidak maksimal. Gelar menjadi simbolis makna terpelajar. Memberikan gap baru bagi social masyarakat. Dari kesalahan pemaknaan pendidikan ini akhirnya bisa menimbulkna gap di masyarakat. Berawal dari kesalahan makna bisa menimbulkan masalah baru bagi sosial yang ada di masyarakat.

Kesalahan pemaknaan inilah yang akhirnya menyebabkan ada istilah menjalani pendidikan hanya untuk gelar saja. Inilah permasalahan yang sangat vital. Kenapa? Karena inilah pencideraan pendidikan yang sebenarnya.

Mungkin dari kesalahan pemaknaan ini juga memunculkan orang cerdas yang tak bermoral. Karena melupakan jalan pendidikan yang lain. Mari kita lihat lagi pendidikan kita. Perhatikan sekitar, maka akan kita temukan pendidikan diluar pendidikan formal.

 

Oleh : Miqdad Ramadhan

(Ketua BEM FT UNJ 2016)

Rate this article!
Apakah Hanya Formal,5 / 5 ( 1votes )
Tags: