Audiensi FRI : Antara Janji Palsu Audiensi Dan Doa Untuk Rektor

menristek-muhammad-nasir

KanalMahasiswa.Com – Forum Rektor Indonesia (FRI) adalah forum rektor terbesar di mana lebih dari 1000 rektor dari perguruan tinggi seluruh Indonesia tergabung dalam forum tersebur. Awal tahun 2016, FRI dilaksanakan di Yogyakarta, yaitu Universitas Negeri Yogyakarta sebagai tuan rumah pada 29-31 Januari 2016. Agenda ini juga akan dihadiri oleh Presiden Joko Widodo dan juga beberapa tokoh nasional, salah satunya Menristekdikti Mohammad Nasir.

Selain ajang pertemuan para rektor, forum ini juga akan menjadi momentum bagi mahasiswa yang dalam hal ini adalah aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) untuk mengawal agenda ini dengan tujuan menyuarakan aspirasi mahasiswa seluruh kampus di Indonesia tentang berbagai permasalahan di kampus masing-masing melalui sebuah audiensi yang rencananya akan dihadiri oleh Perwakilan BEM SI, Menristekdikti dan FRI.

Audiensi yang sudah disepakati antara BEM SI dan pihak panitia, dalam hal ini Rektor UNY sedianya akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 30 Januari 2016 pukul 09.30. Namun dalam kenyataannya, Menristekdikti buru-buru meninggalkan tempat agenda berngsung sejak pukul 09.00 sehingga perwakilan BEM SI, yaitu Zaky (Presiden BEM REMA UNY) dan Doni (Presiden BEM UNS) hanya bisa menemui Menteri di Lobi utama dan audiensi tidak terjadi, hanya obrolan dengan kesan terburu-buru dengan Menristekdikti. Kekecewaan jelas muncul dari pihak mahasiswa di mana pihak menristekdikti dan panitia seolah memberi harapan palsu dan janji kosong, sama seperti pemerintah yang sedang berkuasa pada umumnya.

Berangkat dari kekecewaan itu, pihak mahasiswa menemui pihak FRI dan menuntut agar audiensi tetap digelar. Akhirnya, audiensi digelar di mana perwakilan FRI yang diwakili oleh Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.Pd. (Rektor UNY/Ketua FRI 2015); Prof Dr Ravik Karsidi, M.S (Rektor UNS/Ketua Dewan Pertimbangan FRI 2015); Prof. Dr. Ir. Usman Rianse , M.S (Rektor Unhalu); Prof. Dr. H. Muhibbin, M.Ag (Rektor UIN Walisongo); dan Prof. Dr. E.S. Margianti, SE., MM. (Rektor Universitas Gunadarma). Sedangkan perwakilan mahasiswa ada 6 orang yaitu Zaky Mubarok (Presiden BEM REMA UNY), Doni Wahyu Prabowo (Presiden BEM UNS), Ahmad Jilul Qur’ani (Menko Eksternal Unair), M. Asnawir Nasution (Wapres BEM Unri), Roby Rendra (Presiden BEM UIN SUSKA Riau) dan Eko Susanto (Menteri Karispol BEM REMA UNY).

Audiensi diawali dengan pernyataan sikap kekecewaan atas gagalnya audiensi antara mahasiswa dengan Menristekdikti dan FRI dalam satu forum, padahal mahasiswa ingin megklarifikasi beberapa masalah yang selama ini sering terjadi lempar tanggung jawab antara rektor dan Menteri dan juga masalah terkini yang menyita perhatian, terutama di masalah anggaran kemenristekdikti, kebijakan UKT, BOPTN, kepastian beasiswa PPA-BBP, demokrasi kampus serta rencana perubahan beberapa kampus menjadi PTNBH yang rawan liberalisasi pendidikan. Kekecewaan ini dibalas dengan permintaan maaf, karena memang pak Menteri seperti terburu-buru untuk segera meninggalkan tempat acara, padahal sudah ada janji audiensi. Kejadian ini menjadi catatan khusus, untuk kesekian kalinya Menristekdikti menghindar dari mahasiswa, setelah sebelumnya pada pembukaan MUNAS BEM SI IX yang dilaksanakan di Universitas Tidar, Menristekdikti juga melakukan hal yang sama, seperti terburu-buru meninggalkan tempat acara.

Kemudian audiensi berlanjut dengan pembahasan sesuai rilis BEM SI tentang KAJIAN PENGAWALAN FORUM REKTOR INDONESIA di mana ada 6 poin dan juga desakan dari mahasiswa agar para rektor ikut memperjuangkan hadirnya pendidikan tinggi yang terjangkau untuk seluruh masyarakat dan kampus yang berwatak kerakyatan. Rektor UNY mewakili FRI menyampaikan bahwa para rektor juga ikut memperjuangkan poin-poin yang disampaikan mahasiswa di antaranya Rektor akan ikut memperjuangkan beasiswa PPA-BBP, menciptakan kampus yang pro to the poor, menjamin demokrasi di kampus, memperjuangkan anggaran kemenristekdikti dan BOPTN. Kemudian, di akhir audiensi mahasiswa meminta komitmen para rektor untuk menepati dan menjalankan apa yang telah disampaikan saat audiensi.

Berdasarkan kejadian yang kami dapati, maka Aliansi BEM Seluruh Indonesia menyimpulkan :

  1. Menteri Riset dan Teknologi, Bapak Mohammad Nasir tidak menunjukan iktikad baik untuk beraudiensi dengan mahasiswa yang telah disepakati sebelumnya. Kejadian ini mengindikasikan bobroknya sistem yang ada tentang pendidikan tinggi dan adanya disorientasi serta pelanggaran terhadap hak-hak mahasiswa dan perguruan tinggi, seperti yang telah di paparkan dalam kajian BEM SI;
  2. Rektor dan mahasiswa berada dalam kubu yang sama dalam rangka mendesak pemerintah, dalam hal ini menristekdikti untuk segera membenahi sistem pendidikan tinggi;
  3. Forum Rektor Indonesia mewakili seluruh perguruan tinggi yang ada di Indonesia menjamin kehidupan demokrasi di kampus dan menentang tegas segala pelanggarannya. Serta mengoptimalkan pelayanan pendidikan yang transparan, akuntabel, dan berwatak kerakyatan.

 

Mari kita kawal bersama apa yang telah menjadi komitmen ini, karena kita semua menginginkan hadirnya pendidikan tinggi yang terjangkau untuk seluruh masyarakat dan kampus yang berwatak kerakyatan. Dan juga mari beriring doa untuk para Rektor dalam FRI agar dapat konsisten menjalankan apa yang telah disampaikan dan menjadi komitmennya.

Mahasiswa akan selalu bergerak dengan berazaskan kebenaran. Selama ketidakadilan berada di bumi Indonesia, disitu kami akan mengultimatum, menyuarakan, dan mengembalikan pada jalur yang seharusnya. Karena sejatinya, hanya kematian yang mampu menghentika pergerakan kami. Namun, sebelum kami mati ribuan jiwa baru menanti pergerakan bangkit kembali.

Hidup Mahasiswa !

 

 

Doni Wahyu Prabowo

(Koordinator Isu Pendidikan BEM SI 2016)

Tags: