Generasi Nunduk, Generasi Anti sosial

Sumber : Google.com

“Serang lord”

“Alihkan perhatian, saya curi turret”

“Bersiap untuk pertarungan tim”

“Saya ambil buff”

“Tank atas sama mage, mm tengah, saya jaga bawah”

“Jangan nafsu bro, santai aja”

 

Hai Young Readers, mungkin untuk para penggemar permainan ML (Mobile Legend) tidak asing dengan kalimat-kalimat di atas. Permainan yang booming pada akhir tahun 2016 ini nyatanya banyak digemari oleh seluruh lapisan masyarakat mulai dari anak-anak sampai orang dewasa, bahkan ada kata baru yang sepertinya tidak asing lagi: “mabar” alias main bareng.

 

Berbicara tentang games identik dengan ponsel pintar. Siapa yang tidak terbantu dengan kehadiran teknologi cerdas ini, mulai dari bagun tidur sampai tidur lagi rasanya kita tidak bisa terlepas dari ponsel pintar hingga muncul istilah generasi nunduk.

 

Generasi nunduk merupakan sebuah sindiran untuk para pemuda yang setiap saat sibuk dengan gawainya. Istilah generasi nunduk populer pada akhir tahun 2017. Tidak salah jika diistilahkan demikian sebab dalam keadaan apapun, para generasi nunduk biasanya memiliki kebiasaan untuk melihat layar ponsel pintarnya dan sibuk dengan dunia maya. Bahkan dalam keadaan bersama dan ramai pada generasi nunduk masih sibuk dengan gawainya. Sehingga hal-hal yang seperti ini menyebabkan pemuda menjadi anti sosial. Namun bukan berarti semua orang yang memiliki ponsel pintar menjadi anti sosial tapi kencenderungan tetap ada pada remaja atau anak-anak yang lebih banyak menghabiskan waktu di depan gawai. Hal yang seperti ini seharusnya tidak terjadi pada seorang mahasiswa mengingat salah satu fungsi mahasiswa adalah kontrol sosial. Bagaimana mahasiswa bisa mengontrol keadaan sosial di sekitarnya, jika ia sendiri menjadi manusia yang anti sosial? Tentu, kepekaan terhadap lingkungan sekitar tidak akan pernah ada dalam dirinya.

 

Seperti tak dapat dihindari, arus teknologi yang datang silih berganti di negeri ini pun tidak selamanya berdampak negatif. Banyak sekali dampak positif yang bisa dirasakan, salah satunya kemudahan informasi yang bisa diterima persekian detik. Kebijaksaan pada diri sendirilah yang harusnya berperan untuk bisa mengoptimalkan fungsi teknologi tanpa harus mengorbankan kepedulian sosial.

Rate this article!