Jangan Ajarkan Makna Sabar Kepada Rakyat

macet

ilustrasi : kemacetan

Sifat Sabar, agaknya sudah lekat pada keseharian Rakyat Indonesia. Sejak Pra-kemerdekaan sampai saat ini, salah satu sifat umum yang muncul dalam keseharian rakyat indonesia adalah kesabaran.

Indonesia merupakan bangsa diantara kumpulan bangsa lainnya yang terpaksa harus menjadi korban keserakahan para penjajah. Tak ada sejarawan yang memiliki data pasti berapa korban jiwa yang muncul akibat penjajajahan tersebut, karena berbicara penjajahan memang bukan hanya saja bicara berapa angka jiwa yang melayang tetapi juga bicara nilai kemanusiaan yang terabaikan.

Jika pada era penjajahan nilai kemanusiaan kerap kali terabaikan, maka sudah merupakan klausul umum bahwa penjajahan memang selalu berdiri bersebrangan dengan nilai kemanusiaan. Jikapun pernah ada istilah Politik Balas Budi, sesungguhnya ini hanya imagi, lebih tepat dikatakan politik pencitraan.

Namun, yang sangat disayangkan adalah, Jika pada era kemerdekaan nilai kemanusiaan masih terabaikan, kita khawatir Rakyat mati rasa dan akan muncul sikap tak mampu lagi perhatian terhadap Norma.

Pernyataan bernada Gurauan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani selasa (26/01) lalu yang mengatakan agar Rakyat jangan banyak makan dan dianjurkan diet merupakan humor yang tidak mampu diterima publik. Pasalnya, rakyat seolah sedang didikte makna sabar dan diceramahi untuk hidup prihatin nan sederhana dalam menghadapi kondisi ekonomi bangsa. Benarkah Rakyat Tak paham makna Sabar dan tak sanggup hidup prihatin?

Pertama, secara statistik jika berkaitan dengan konsumsi beras, dimana Rakyat harus diminta mengurangi makan dan dianjurkan Diet, kita temukan bahwa konsumsi beras nasional Per Kapita Turun jadi 114 Kg per Tahun, hal ini diutarakan oleh Menteri Koordinator bidang Perekonomian Sofyan Djalil. Data ini merupakan hasil studi BPS. Konsumsi beras nasional turun menjadi 114 Kg per Tahun Per Kapita yang pada tahun lalu besar konsumsi beras nasional adalah 124 Kg.[1] [1]

http://sp.beritasatu.com/home/konsumsi-beras-per-kapita-turun-jadi-114-kg-per-tahun/81903

Data penurunan konsumsi beras nasional tersebut setidaknya mengandung beberapa persepsi. Rakyat mengurangi konsumsi beras dan beralih kepada bahan makanan lainnya. Celakanya, jika rakyat secara massif beralih kepada bahan makanan instan yang secara medis tidaklah cukup untuk memenuhi standard kebutuhan gizi harian. Pada semester I 2015 lalu diketahui penjualan segmen mi instan naik menjadi Rp. 10.93 Triliun dibanding periode yang sama tahun 2014. Artinya, dimungkinkan sebagian Rakyat beralih kepada panganan jenis ini dalam kurun waktu 2014-2015 dan dimungkinkan ada dampaknya pada penurunan konsumsi beras nasional. [2] [2]

http://duniaindustri.com/menguak-ketatnya-persaingan-di-industri-mi-instan/

melihat data menurunnya konsumsi beras nasional, Rakyat sudah menunjukan dan membuktikan bahwa mereka sudah meng-aminkan gurauan bu menteri berkaitan dengan jangan banyak makan, khususnya makan beras. Melihat naiknya angka penjualan segmen mi instan, barangkali ini juga menunjukan angka kesabaran dan ketangguhan Rakyat dalam rangka bertahan hidup. Maka, Jangan ajarkan makna Sabar kepada Rakyat! *Kedua*, mari menengok sisi kesabaran rakyat dari dimensi lainnya, yaitu keseharian rakyat menghadapi permasalahan macet. Mari kita ambil contoh bagaimana masyarakat Jakarta teruji kesabarannya dalam menghadapi kemacetan. Jakarta termasuk memiliki angka kecepatan kendaraan yang rendah, yaitu hanya 5 km/jam[3]. Kondisi ini terjadi bukan hanya saja pada jam-jam sibuk, namun juga pada jam setelahnya. Bahkan terkadang jalan kaki lebih cepat sampai tujuan dibandingkan naik mobil pribadi dalam kondisi macet parah. [3]

http://www.beritasatu.com/megapolitan/187814-kemacetan-jakarta-makin-parah-kecepatan-kendaraan-hanya-5-kmjam.html

Jika parade data lainnya kita kumpulkan, maka kita akan temukan serangkaian kekuatan sabar rakyat Indonesia dalam rangka menyikapi kondisi ekonomi bangsa. Sesekali kita harus tahu keluhan masyarakat pegunungan pemilik sah tanah Papua yang dirampas Freeport emasnya lengkap dengan kedaulatan serta kebudayaan mereka. Kejamnya lagi, kekejaman ini terjadi direstui oleh payung hukum UU Penanaman Modal Asing. Maka adakah kekejaman yang lebih besar dibandingkan perampasan hak milik yang direstui oleh payung hukum? Maka adakah penelitian sains yang dapat merumuskan besaran kesabaran Rakyat yang terampas haknya tersebut? Sekali lagi kami katakan, Jangan Ajarkan Makna Kesabaran Kepada Rakyat karena merekalah Guru Kesabaran!

 

Oleh : MH Kusumah

— Jiwa yang senantiasa mencari makna dan selalu berujung bahwa diri bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa