Kids Zaman Now, Kamu Harus Jadi Pemilih Cerdas!

8-daerah-di-jabar-ikuti-pilkada-serentak-desember-2015

Sumber : Google.com

 

Generasi muda adalah generasi yang dapat membawa perubahan, memiliki pola pikir yang kritis, dan visioner terhadap berbagai hal yang ditemukannya. Dengan total populasi penduduk Indonesia berjumlah sekitar 260 juta penduduk (BPS 2017) mengartikan bahwa negara ini adalah negara besar dengan potensi besar.

Saat ini kita telah memasuki tahun 2018, era dimana kita akan disuguhkan dengan banyaknya momentum besar, sebut saja event sekelas ASEAN Games, FIFA World Cup, beserta event lainny. Dan tentu yang tidak kalah pentingnya yaitu momentum pesta demokrasi pelaksanaan Pilkada serentak di 171 daerah di Indonesia serta prosesi persiapan menuju Pemilihan Umum Legislatif dan Eksekutif tahun 2019.

Tidak dapat dipungkiri, agenda besar tahun ini yang berkaitan dengan politik agak kurang diminati oleh kalangan anak muda atau dengan bahasa kekinian biasa sebut sebagai “kids zaman now”. Pemilih pemula khususnya remaja berusia 17 tahun mempunyai nilai kebudayaan yang santai, bebas, dan cenderung pada hal-hal yang informal, serta gemar mencari kesenangan. Oleh karena itu, semua hal yang kurang menyenangkan akan dihindari (Suhartono : 2009).

Namun dalam hal ini, kita tidak boleh menutup mata dengan apa yang akan terjadi, harus kita pahami bersama “kids zaman now” atau pemilih muda memiliki bargaining position yang cukup besar dalam kontestasi Pilkada serentak 2018 dan Pemilu 2019. Mengacu pada data KPU saat Pemilu 2014, diketahui jumlah pemilih muda dengan rentang usia 17-20 tahun sebesar 14 juta orang, sedangkan pemilih usia 20-30 tahun sebesar 45,6 juta jiwa. Kemudian berdasarkan data pada pemilu 2009  ada sekitar 36 juta pemilih dari 171 juta pemilih yang dikategorikan sebagai pemilih muda. Sedangkan Pada pemilu 2004, jumlah pemilih muda mencapai sekitar 27 juta dari 147 juta pemilih. Tentu dari 3 episode pada pemilihan umum, jumlah usia yang dikategorikan sebagai pemilih muda memiliki tren yang cenderung meningkat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2019 jumlah pemilih muda sudah mencapai 60 juta orang. Bahkan, pemilih muda di bawah usia 35 tahun mendekati angka 100 juta orang.

Besarnya jumlah usia muda yang memiliki hak suara dan besarnya potensi yang dimiliki dalam kontestasi pemilihan umum semakin menarik kalangan partai politik untuk berkompetisi merebut suara dari kalangan usia muda. Pemilih pemula atau pemilih muda biasanya sangat antusias untuk datang ke tempat pemungutan suara dan cenderung dimobilisasi. Budaya politik parokial mewarnai kebanyakan pemilih pemula dalam Pemilu. Sehingga mereka membutuhkan pendewasaan politik agar dapat berpartisipasi aktif dan dapat berkontribusi positif dalam upaya menjaga dan menyukseskan pesta demokrasi.

Pemilih muda dituntut untuk menjadi yang paling kritis serta selalu ingin tahu visi dan misi calon, untuk kemudian dibandingkan dengan rekam jejaknya. Kids zaman now harus menjadi pemilih cerdas yang memiliki arah pemikiran politik yang jelas, mengedepankan pilihan berdasarkan hati nurani, dan bersikap bijak dalam memilih. Yang harus diingat oleh pemilih bahwa suara kita bernilai mahal dan tidak bisa dijadikan komoditi oleh kepentingan politik tertentu yang tidak memihak rakyat kecil. (fa)