KPK : Kucing Pemberantas Korupsi

Sumber : Google.com

Syahdan di suatu negeri dimana samudranya sangatlah luas, negerinya kepulauan; sehingga kebanyakan masyarakatnya mencari nafkah dengan melaut. Jadi sudah barang tentu kewan-kewan laut menjamur dimana-mana di negeri itu, sebetulnya tak sekedar penghuni air asin yang menjadi komoditas, penghuni air tawar juga mewarnai jagad perikanan, terlebih banyak sekali persungaian yang membelah cantik di dalam negeri tersebut.

Di dalam negeri itu pemerintahan; muamalah; kehidupan perpolitikan hingga peraktivisan dilakukan oleh para kewan-kewan dengan tabiat dan moralnya masing-masing. Sedangkan manusia hanyalah kaum yang teratur dimana hidupnya hanya untuk mencinta apa yang dianugrahkan Tuhan.

Sehingga yang paling diuntungkan dengan kondisi gemahripah loh jinawi seperti ini adalah para kucing kampung; kucing perkotaan; hingga kucing garong; mereka semua menjadi penikmat kondisi tersebut. Terlebih para kucing disini didapuk menjadi penjaga; penegak hukum; hakim; dan muftyyang menentukan syariat. Sedangkan aku dan para tikus lainnya sudah kadung dicap sebagai pencuri; bandit; perusuh tatanan.

Ditambah para cicak yang senantiasa membisiki para kucing untuk mengkabarkan dimana kami bersembunyi. Para cicak juga membisiki para manusia bahwa; kami para tikus adalah pencuri dan garong. “Tidak… itu tidak sepenuhnya benar, terlalu banyak fitnah dan informasi yang dikurangi dan dibumbui!”, kata ku dalam cicitan ku di bawah tetesan air comberan dalam selokan kota malam itu.

Mereka para cicak pantas mati. Kerja mereka hanya kasak kusuk untuk mengadu domba, meniupkan bara api kepada kami kaum-kaum tertindas. Harusnya para manusia itu mengingat sabda Nabi “barang siapa yang membunuh cicak sekali pukul, maka dituliskan baginya pahala seratus kebaikan.”Mereka pantas mati!

Dua hari lalu tepatnya pada hari jumat, para kucing kota yang bekerja di kpk (Kucing Pemberantas Korupsi) mengumumkan para tersangka pencurian harta negara. Disebutlah kami satu persatu para tikus yang sudah menjadi incarannya sejak lama. Lalu para cicak disibukkan dengan membuat kasak kusuk baru untuk meruntuhkan moral kami para tikus dengan menaikkan headline “Para Tikus Selokan Ditetapkan Tersangka oleh Kucing Ras Anggora Perkotaan!” Luar biasa berita menyebar cepat hingga seantero negeri pasti mengetahuinya.

“Asyuu!” Para kucing digambarkan terlampau indah, bersih, berintegritas, pemilik moral tertinggi, sedangkan kami para tikus hanya selevel dengan air selokan; busuk!”

Padahal mereka para kucing tak jauh ubahnya seperti kami, malah lebih busuk. Semakin bersih kulitnya semakin busuk perilakunya; semakin halus dan panjang bulunya semakin licik. Sedangkan kucing-kucing yang terlihat korup seperti para pencegat dipinggir jalan, ketahuilah busuknya mereka tak ada apa-apanya dengan para kucing perkotaan. Terutama para kucing anggora yang dipuja-puja di dalam kasak kusuk para cicak.

Ketahuilah kami para tikus adalah kaum duafa, fakir dan miskin, gelandangan yang menyusuri kota. Sedari awal kami memang sudah mengakui moral kami memang tak patut untuk ditiru, kami mengambil apa yang kami lihat; adanya nasi kami ambil nasi; adanya roti kami ambil roti; adanya keju kami ambil keju. Semuanya hanya sekadar mengenyangkan perut, dan menafkahi keluarga.

Dan lihatlah mereka para kucing, mereka ahlus mengatur status tersangka tergantung pesenan kucing lebih atasnya. Tak jarang juga para kucing berkerja sama dengan para tikus di dalam tahanan untuk mengatur siapa selanjutnya untuk dijatuhkan moralnya; integritasnya; dibuka semua aibnya; dan dikotori sekotor-kotornya dengan air selokan paling busuk. Tikus yang mau bekerjasama dengan para kucing mereka mendapat ‘grasi’; sedangkan para kucing yang berhasil menjegal para tikus lainnya mereka akan naik daun, namanya menjamuri jagat kasak-kusuk para cicak. Menjadi kewan paling berintegritas.

Bahkan kewan tertindas yang belum menjadi tikus seperti ku; yang bersih dan berintegritas, banyak dari kami dijegal oleh para kucing kota itu. Banyak sebab mereka dijegal; karena membeberkan kebrobokan para kucing; menjadi lawan politik banteng, sapi, atau kambing; yang jelas berbuat ulah kepada para penguasa makar segala makar negeri.

Dan hari ini, sejak sehari lalu aku bersembunyi di dalam selokan ini dari kejaran para kucing; nama ku semakin busuk; anak-anak ku tak berani berangkat sekolah lagi; istri ku dikucilkan dari pergaulan para kewan tertindas; harta warisan orang tua ku satu-satunya disita; dan sekarang mulai diwacanakan hukuman mati untuk tikus seperti ku.

Sedangkan mereka para kucing terus menerus mencuri ikan dari manusia dengan menuduh, “Semalam tikuslah yang mengambilnya tuan.” Padahal aku secuil saja sudah kesusahan membawanya, apalagi satu ekor; dua ekor sekaligus. Mereka para kucing yang mencurinya; banteng, sapi, kambing pelaku makarnya; dan kami para tikuslah yang jadi tersangkanya.

Wildan Wahyu Nugroho

Rate this article!