Media Sosial dan Echo Chamber

Sumber : Google.com

Kehidupan kita saat ini tidak pernah terlepas dari media sosial dan internet. Kemana pun dan dimana pun kita berpijak, dapat dipastikan kita memiliki kecenderungan untuk membuka terus-menerus media sosial atau berita yang beredar di dunia maya.

Dunia yang kita kenal  dengan ‘internet’ adalah ruang yang tidak ada batasnya. Kita dapat menemukan apa saja di internet. Dimulai dari berita pengeboman, konflik yang ada di Palestina dan Suriah, sampai berita dari Negara Adi Daya yang berada diujung dunia sana.

Namun, apakah para pengguna media sosial sadar, media sosial yang mereka buka setiap harinya hanya akan menampilkan apa yang dia senangi saja atau secara garis besar yang hanya sependapat dengan dia?

Sebagai contoh seseorang yang mem-follow atau menambahkan akun keislaman dan memposting status keislaman, akan selalu mendapatkan informasi yang berkaitan dengan Suriah, Palestina, dan gerakan–gerakan islam yang lain. Tapi tidak akan pernah mendapatkan berita yang dikeluarkan oleh kubu lain. Ini adalah akibat dari algoritma media sosial yang hanya akan menyeret kita dalam lingkaran yang dianggap satu suhu dengan kita. Ini yang disebut dengan Echo Chamber atau Filter Bubble.

Secara singkatnya alogritma diatas menampilkan konten berita sesuai dengan riwayat klik, riwayat pencarian, riwayat like, riwayat share, riwayat bacaan, hingga riwayat komentar sesuai dengan algoritma tadi. Bisa dikatakan, setiap dari kita akan dipisahkan dengan orang yang kontradiktif dengan informasi yang sering kita buka, sehingga media sosial cenderung memberikan informasi yang disukai dan menyenangkan sesuai dengan kepercayaannya.

Ada beberapa hal yang harus para pengguna media sosial lakukan untuk keluar dari Echo Chamber, diantaranya dapat dilakukan dengan:

  1. Menambahkan teman yang memiliki kesenangan kontradiktif dengan yang Anda senangi,
  2. Memulai untuk membaca berita langsung dari media atau website yang ada agar pemahaman dan informasi yang kita dapatkan berimbang.

Banyak dari pengguna media sosial saat ini menerima berita atau informasi yang muncul pada linimasanya. Padahal berita yang muncul pada linimasa kita adalah berita hasil seleksi sesuai dengan selera.

Sebagai penutup, mari bersama menjadi pengguna media sosial yang cerdas nan bijak dan perbanyak wawasan dengan membaca berbagai buku.

Rate this article!
Tags: