Menakar Dampak Pilkada Serentak 2018 Terhadap Perekonomian Nasional

 

Sumber Gambar: Google

Sumber Gambar: Google

 

Dengan akan diselenggarakannya Pilkada serentak di 171 daerah di seluruh Indonesia, banyak yang menyebut bahwa tahun 2018 merupakan tahun politik. Director Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) memberikan analisis pada pilkada serentak yang akan dilakukan di 171 daerah. Hal ini akan membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi positif. Sebab, pilkada serentak akan memberikan efek berkelanjutan atau multiple effect.

Di tahun politik ini juga memunculkan polemik dari para investor atau pengusaha. Banyak pengusaha melakukan wait and see dari pilkada yang dilakukan karena ketika calon kandidat terpilih, akan terjadi perubahan-perubahan mengenai regulasi atau kebijakan yang berimbas kepada kondisi perekonomian. Dari kandidat yang terpilih nantinya, akan memunculkan peluang ketidakpastian dikarenakan kebijakan-kebijakan baru ini akan mampu mengundang para investor untuk berinvestasi atau tidak.

Bisa kita lihat, investor sangat tertarik untuk berinvestasi di Indonesia. Tetapi yang terjadi hanyalah portfolio atau hanya uji coba. Berbeda apabila sudah yakin dan mereka akan melakukan investasi untuk membangun pabrik atau kegiatan-kegiatan di sektor rill. Ini yang seharusnya didorong, bahwa tahun politik itu berpeluang untuk memberikan ruang momentum untuk menggerakkan sektor-sektor yang produktif

Peningkatan yang cukup signifikan terjadi dari Lembaga Non Profit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT). Kegiatan politik seperti kampanye yang menyebabkan meningkatnya permintaan kaos, spanduk, dan atribut kampanye secara masif yang hanya menguntungkan satu atau sekelompok orang atau golongan saja dikarenakan perputaran dana dari satu pengeluaran yang cukup besar.

Sementara itu, dari tahun politik ini, banyak kandidat-kandidat yang akan melakukan program positif. Hal ini akan memicu pertumbuhan ekonomi karena akan digunakan kandidat sebagai bentuk kampanye yang dilakukan dalam menjajakan visi dan misinya. Seperti bantuan sosial (bansos) dan pembangunan infrastruktur.

Namun, kontribusi dari LNPRT dalam Produk Domestik Boruto dapat dikatakan masih kecil, hanya sekitar 2 persen. Di tahun 2018, kondisi perekonomian saat pilkada cenderung stagnan di kisaran 5 persen. Daya beli masyarakat bawah akan sedikit meningkat, namun peningkatan diakibatkan naiknya belanja sosial dan berbagai bantuan langsung dari pemerintah daerah dan pusat, bukan karena produktivitas naik, tapi hanya karena program bantuan langsung yang diberikan. (sr)