Menilik Kemungkinan Kembali Terjadinya Fenomena “January Effect” 2018

92investasi-saham-4-e1463710612109Sumber : Google

Dalam setiap pergantian tahun terdapat banyak peluang bagi investor yang cukup jeli dalam membaca dinamika pasar modal. Seorang investor yang gemar mengamati pergerakan harga saham di pasar modal, akan berharap kedatangan fenomena Januari Effect. Seolah tidak mau kalah dengan alam yang memiliki pergantian siklus dan musim, dunia bisnis khususnya saham juga memiliki siklus dan musimnya sendiri. Dalam satu tahun masa perdagangan (12 bulan), terdapat beberapa siklus yang biasanya terjadi di mana tidak selamanya harga-harga saham akan secara terus menerus naik (uptrend/bullish) atau secara terus menerus turun (downtrend/bearish).

 

Hal yang sangat menarik untuk dipahami bahwa perdagangan yang terjadi pada pasar saham Amerika Serikat sudah jauh lebih matang apabila dibandingkan dengan perdagangan yang terjadi di Indonesia (Bursa Efek Jakarta maupun Bursa Efek Surabaya yang sudah merger menjadi IDX).

 

Walaupun kondisi goegrafis maupun budaya kedua negara cukup jauh berbeda, namun warna dari pasar saham Indonesia banyak mengikuti Amerika. Sehingga dengan mempelajari kondisi dan keadaan yang terjadi di pasar Amerika, seorang trader bisa mendapatkan gambaran mengenai perdagangan yang terjadi di bursa Indonesia.

 

Apa itu January Effect?

January Effect adalah istilah tahunan yang bakal mewarnai pasar modal dalam waktu dekat ini. Istilah yang pertama kali dimunculkan oleh seorang bankir bernama Sidney B. Wachtel pada tahun 1942 silam ini, merujuk pada suatu kepercayaan di mana harga saham cenderung naik pada awal tahun di bulan Januari

Apa yang menyebabkan terjadinya January Effect?

Setidaknya ada 3 teori yang paling umum diyakini menjadi penyebabnya yaitu:

  1. Fenomena yang dilakukan oleh investor sebagai individu yang cenderung melepas saham untuk menghindari pajak di akhir tahun (Tax Loss Selling);
  2. Sejumlah fund manager juga biasa menjual saham-sahamnya yang merugi di akhir tahun untuk memperbaiki kinerja dan makin dipercaya klien atau investor. Setelah akhir tahun berlalu, mereka kembali membelinya di awal tahun dan tidak terhindarkan lagi, bahwasanya harga saham di bulan Januari akan naik kembali;
  3. Sejumlah orang mendapatkan bonus pada akhir tahun sehingga baru menentukan pilihan untuk berinvestasi di pasar modal setelah liburan akhir tahun.

 

Akankah January Effect juga terjadi di bursa kita?

Berdasarkan pengamatan pada IHSG, January Effect terjadi pada bulan Januari tahun 2017, 2016, 2014, 2013, 2012, 2010, 2006, 2005, dan 2004. Sedangkan pada tahun 2009, 2011, dan 2008, January Effect terjadi sangat singkat, kenaikan harga hanya berkisar 1 sampai dengan 3 hari. Tahun 2008 kenaikan yang hanya 3 hari itu disusul dengan penurunan tajam sepanjang tahun 2008.

Hal berikutnya yang patut dicermati adalah efek bulan Januari tidak terbatas pada saham-saham lapis pertama, namun seringkali terjadi pula pada saham-saham lapis kedua dan lapis ketiga. Data yang dipaparkan dari The IDX Statistics Book 2010 – 2016, analisa terhadap data perdagangan IHSG dari tahun 2007 sampai tahun 2016 ditemukan beberapa hal menarik:

  1. Dalam rentang 10 tahun, terjadi 7 kali kenaikan harga yang mendukung fenomena efek bulan Januari.
  2. Dalam rentang yang sama, terjadi 3 kali penurunan.
  3. Kinerja IHSG disetahunkan mencapai 11,32%.
  4. Probabilitas kejadian efek bulan Januari pada rentang tersebut mencapai kira-kira 70%.

 

Bagaimana dengan tahun 2018?

Di akhir tahun 2017, terdapat sebuah sinyal berupa angka yang positif. Selain itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2017 mencapai 5,03% pada triwulan ke III.

Adanya kenaikan pada tingkat ekspor andalan Indonesia di tahun 2017 sebesar 30,8% dan menjadi salah satu faktor yang membuat pertumbuhan ekonomi bisa mencapai target. Kondisi keuangan negara juga terjaga dengan baik di tahun 2017 dengan defisit anggaran sebesar 2,67%. Hal tersebut membuat kondisi fiskal masih terjaga.

Jadi, berdasarkan sentimen-sentimen tersebut, kemungkinan IHSG kembali mengalami January Effect, namun kenaikannya mungkin tidak terlalu besar karena masih ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam momentum di pasar.

Maka, dalam market share yang sangat dinamis, segala kemungkinan bisa saja terjadi. Alangkah baiknya jika fenomena-fenomena seperti January Effect ini tidak dijadikan sebagai pedoman utama atas keputusan investasi. (sr)

Tags: