Menjadi Pribadi Apresiatif

menjadi pribadi apresiatif

Melihat segala sesuatu secara adil atau yang saat ini kita kenal dengan sudut pandang objektif. Sebuah hal yang saat ini sering kali kita lupakan dalam kehidupan kita. Sebuah sudut pandang dalam memaknai fenomena-fenomena kehidupan dengan bijaksana dan bersahaja.
Hari ini kita senantiasa terjebak pada realitas yang tampak pada permukaan saja. Kita dengan mudah menjustifikasi sebuah permasalahan dengan hanya melihat sebuah perkara dari sisi terluar, yang diperkuat oleh kemalasan kita dalam berpikir, dan disempurnakan oleh kebencian kita terhadap efek yang ditimbulkan oleh perkara-perkara tersebut.

 
Ada semangat yang hilang di sini. Semangat berapresiasi terhadap hal-hal yang terjadi pada diri kita, orang-orang di sekitar kita, ataupun lingkungan di sekitar kita. Apresiasi bukanlah sebuah hadiah atau penghargaan semata terhadapa apa yang terjadi disekitar kita yang sering kita artikan saat ini. Apresiasi juga dapat berbentuk konsep bersyukur, konsep memahami kapasitas diri, dan konsep memaksimalkan segala potensi diri.

 
Semangat berapresiasi berpijak pada prasangka baik. Selanjutnya adalah penghargaan, lalu sesudahnya adalah kerelaan untuk memuji, dan berterima kasih. Sesudah itu adalah kemampuan berbalas budi.

 
Permasalahan utamanya adalah bukan pada pemahaman terhadap apa itu apresiasi atau hal-hal apa saja yang pantas untuk diapresiasi. Namun sering kali kita terjebak pada kondisi-kondisi yang membuat kita salah dalam mengapresiasi sesuatu. Menghargai sesuatu yang tampak indah mungkin jauh lebih mudah, meskipun banyak yang indah namun tidak sesuai dengan apa adanya. Sedangkan menghargai yang tampak apa adanya seringkali kita sulit memahaminya.

 
Orang-orang yang berhati dangkal belajar menghargai ketika telah kehilangan hal-hal yang berharga bagi dirinya. Orang-orang yang senantiasa memahami makna dengan dalam, belajar menghargai dengan terus menambahkan ke dalam daftar kesadarannya alasan-alasan baru untuk dapat terus menghargai.

 

 

“Hidup hanyalah sebuah kumpulan interaksi. Saat-saat kita kita saling memantulkan penampakan lahiriyah. Antara kita dengan orang-orang di sekitar kita. antar kita dan benda-benda di sekitar kita. lalu di dasar batin kita harus mencari tafsir atas semua yang tampak. Di situ pula letak ketertipuan kita. Di situ pula, tempat kita gagal atau sukses menghargai. Terlebih lagi yang tampak apa adanya.

 

Setiap individu memiliki tafsirnya sendiri tentang arti dari semangat saling menghargai. Akan tetapi, harus kita akui masih banyak dari kita yang kurang dalam membudayakan semangat ini dalam bentuk interaksi kita dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai sebuah bentuk komunikasi dalam banyaknya perbedaan yang hari ini sering kali membuat kita tidak mampu berpikir objektif apalagi konstruktif. Sebagai sebuah bentuk bahasa kasih sayang dalam bingkai kesederhanaan dan kebersahajaan.”

 

 
Gempar Dwi Pambudi

 

 

Rate this article!
Tags: