Paskibra Sebagai Sarana Pendidikan Karakter

17 Agustus 1946 menjadi awal mula yang melatar belakangi dibentuknya Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra). Mayor M. Husein Mutahar merupakan pencetus pertama Paskibra. Di awal kemunculnya, pasukan ini berisi 5 orang dengan komposisi 3 orang laki – laki dan 2 orang perempuan. Halaman Istana Presiden Agung Yogyakarta menjadi saksi bisu pengibaran pertama yang dilaksanakan oleh pasukan ini.

Pada tahun 1967 mulai ada perubahan formasi. Pada tahun ke-21 Indonesia merdeka tersebut, pertama kalinya pasukan dibuat menjadi 3 kelompok. Pasukan 17 yaitu sebagai penggiring, pasukan 8 sebagai pembawa bendera, pasukan 45 sebagai pengawal. Penamaan pasukan tersebut merupakan simbol dari Proklamasi Kemerdekaan RI. Dengan berbagai perekembangan yang sangat pesat. Sampai pada saat ini Paskibra hadir sebagai pelajaran ekstrakurikuler di sekolah pada jenjang SMP dan SMA.

Selama ini mungkin yang terlihat hanya sebatas baris–berbaris, hukuman, dan sebagainya. Kenyataannya di lapangan, kegiatan ekstrakurikuler sekolah yang biasa di panggil dengan Paskibra ini mempunyai tujuan yang sangat baik untuk kemajuan bangsa. Paskibra merupakan salah satu sarana untuk menghimpun dan membina agar peserta didik dan warga negara Indonesia bertaqwa pada Tuhan Yang Maha Esa dan berjiwa Nasionalis.

Beberapa kegiatan di dalam Paskibra memang terlihat sepertinya hanya sebatas berbaris di depan tiang bendera, lalu melakukan latihan fisik, dan teriak–teriak komando hingga selalu membuat ramai lapangan. Tapi, jauh lebih dalam dari itu, Paskibra menanamkan kedisplinan dalam setiap agendanya walaupun hanya saat latihan. Tujuan besarnya adalah disiplin di kehidupan sehari–hari karena dengan latihan yang dibiasakan maka akan terus terbiasa dan pada akhirnya menelurkan orang–orang yang disiplin terhadap waktu. Waktu ketika peserta didik menjalankan kegiatan ataupun dispilin waktu ketika dia beribadah.

Tidak hanya menanamkan kedisiplinan, Paskibra juga menamkan korsa kepada peserta didik. Bagaimana caranya merasakan apa yang dirasakan oleh kawan-kawannya, merasakan apa yang diderita orang lain hingga menumbuhkan sikap empati kepada tiap-tiap peserta didik, hingga akhirnya akan muncul kesolidan dalam suatu himpunan peserta didik.

Ketika sudah ditumbuhkan kedisiplinan dan korsa kepada setiap diri peserta didik. Maka rasa cinta kepada Tuhan dan Tanah Air secara tidak langsung akan tumbuh sehingga akan selalu siap untuk membela agama dan negaranya.