Perkenalkan, Nama Saya Buruh

Sumber: google.com

Perkenalkan, nama saya Buruh. Seringkali saya dianggap sebagai buruh rendahan yang hina. Buruh-Buruh yang lain pun begitu. Padahal dalam pengertiannya, buruh adalah manusia yang menggunakan tenaga dan kemampuannya untuk mendapatkan balasan berupa uang maupun bentuk lainnya kepada pemberi kerja atau majikan/pengusaha. Buruh adalah mereka yang bekerja dengan kesepakatan kedua belah pihak. Buruh juga termasuk pekerja, tenaga kerja atau karyawan. Tapi di negeriku buruh dipandang sebagai pekerja yang hanya menggunakan otot dan dianggap kekirian juga radikal.

Hari ini, biasa disebut MayDay, adalah hari jadi saya, hari jadi kami. Entah, sudah kali keberapa kami bertemu dengan hari ini. Namun, nampaknya hidup kami dan keluarga tidak ada mujurnya dari tahun ke tahun. Hari ini memperingati tragedi yang menimpa teman-teman seperjuangan kami di lapangan Haymarket Chicago, Illnois, Amerika Serikat pada 4 Mei 1886. Saat itu, mereka memperjuangkan hak kami untuk mengubah jam kerja yang hampir di segala sektor dikuasai oleh kaum borjuis.

Masih dalam konteks memperjuangkan hak kami, problematika buruh di negeri ini rupanya tetap menjadi pekerjaan rumah, baik bagi pemerintah atau pun masyarakat. Sempitnya peluang kerja, tingginya angka pengangguran, rendahnya SDA, upah yang murah dan jaminan sosial yang seadanya, menjadikan banyak warga di negeri ini berlari ke luar negeri hanya untuk menjemput rezeki. Permasalahan tidak berhenti di situ. Kurangnya pengawasan dan perlindungan untuk tenaga kerja di luar negeri menjadi momok yang mengerikan bagi teman-teman seperjuangan kami di sana. Padahal jika kita pahami, mereka adalah pahlawan yang menyumbang devisa paling besar ke dompet negeri ini.

Pada 2015, bank dunia mencatat sumbangan remintasi TKI mencapai US$10,5 miliar atau sekitar Rp140 triliun. Itu terjadi pada tahun 2015. Tidak bisa saya bayangkan seberapa besar sumbangan dari buruh-buruh tersebut untuk negara saat ini. Tapi sayang, nasib tetap akan menjadi nasib. Mereka belum menemukan jawaban, kapan bisa kembali ke negeri asalnya, Indonesia.

Tidak hanya itu, kebijakan pimpinan negeri ini melilit leher kami. Pasalnya beberapa waktu yang lalu, terjadi kenaikan harga BBM.  Saya dan keluarga kewalahan memikirkan bagaimana kami bisa bertahan hidup dengan pendapatan yang tidak mengalami kenaikan untuk memenuhi kebutuhan bahan sembako yang terus menjulang tak terkira.

Belum cukup di situ, maraknya kasus PHK secara sepihak membuat saya setiap detik ketakutan. Apakah PHK sepihak itu juga akan menimpa saya? Bagaimana dengan teman-teman Buruh yang lainnya? Saya, mewakili mereka, menyampaikan bahwa kami berhak hidup layak dan bekerja sebagai manusia. Semoga MayDay dapat membuat mereka melihat kami selayaknya rakyat yang harus diayomi.

Rate this article!
Tags: