Petikan Sambutan Koordinator Pusat BEM Seluruh Indonesia : HARGA DIRI PEMUDA!

Sumber : https://www.instagram.com/wildanwahyun/

Bismillahirrahmanirahim.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia!

Pada sambutan ini, saya tak akan membahas persoalan sejarah pergerakan, taktik pergerakan mahasiswa, maupun diskursus 20 tahun reformasi. Sebab, orang-orang yang hadir pada musyawarah nasional BEM SI ini, pasti sudah atau barangkali lebih memahami hal tersebut. Dan persoalan eskalasi ke depan beserta tema-tema yang harus kita bawa pada hari ini sudah tentu akan dibahas nanti pada musyawarah nasional BEM SI.

Maka izinkanlah saya membawakan narasi yang berbeda. Pada kesempatan ini saya ingin membagi dan bercerita tentang pengalaman dan pembelajaran yang baru saya dapatkan. Yaitu tentang cemburunya pemuda terhadap pribadinya, keluarganya, dan bangsanya; serta persoalan Siri atau harga diri.

Namun sebelum jauh kepada pokok bahasan, mari kita lihat realitas yang kini terjadi pada bangsa kita supaya kita bisa memvisualisasikan derita rakyat, derita bangsa!

Seperti yang sudah kita ketahui bersama, dari fakta-fakta yang tentu sudah tidak bisa ditutup-tutupi oleh media manapun, dan saya meminta atas dasar intelektualitas yang kita semua miliki, supaya kita bisa bersama melihat permasalahan-permasalahan bangsa.

Seperti hari ini, terjadi serbuan buruh asing di negeri ini. Di atas realitas bahwa masih banyak jutaan rakyat Indonesia yang masih menganggur.

Lalu misalnya di Riau ini, permasalahan agraria hingga masalah lingkungan, yang dalangnya sudah jelas bukan pemilik saham tertinggi kedaulatan; yaitu rakyat! Dan dibalik itu pernahkah kita menghitung berapa banyak korban yang akhirnya harus sakit, bahkan mati akibat pencemaran lingkungan yang terjadi.

Selanjutnya permasalahan energi, perusahaan tambang minyak asing yang sudah berpuluh tahun menyedot kekayaan alam di Riau yang usianya sudah melebihi umur kemerdekaan negara Indonesia. Sedangkan kita lihat masih banyak rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Hingga jika kawan-kawan semua lewat di sepanjang jalan di pagi hari menuju kampus UNRI, banyak sekali waria-waria yang menjual dirinya sebelum subuh, dan siangnya bekerja di bengkel demi sesuap nasi.

Lalu hutang kepada asing dan aseng yang kian menggunung, pertumbuhan ekonomi tak sesuai dengan janji manis yang terucap, rakyat ditipu dengan janji!
Namun di balik itu rakyat justru semakin hidup di dalam ketimpangan. Yang kaya semakin kaya, yang miskin tak lagi terselamatkan.

Atau misalkan baru-baru ini, di Papua dengan tambang emas raksasanya. Super kaya! Namun di sana ada sekelompok masyarakat yang menjadi korban busung lapar, mati kelaparan!

Dan parahnya, fenomena yang saya sebutkan tadi adalah puncak gunung es. Masih banyak sekali realitas permasalahan yang terjadi di negeri ini.

Lalu pertanyaan berikutnya, bagaimana kita harus menyikapi ini semua?
Bagimana kita harus berekspresi melihat realitas?
Bagaimana harusnya gimik badan dan emosi yang harus kita ekspresikan?

Silahkan renungkan pada hati masing-masing.

Namun nilai adat istiadat, norma, budaya, serta agama kita telah memberi contoh bagaimana kita harus bersikap, minimal pada diri kita masing-masing.

Bagaimana cemburu harus ada dalam syaraf kita?

Belajarlah cemburu pada orang Bugis-Makassar misalnya, atau pada orang Madura. Yang tak segan-segan mengangkat badik jika syarafnya terusik, kehormatannya terganggu.

Seperti berita pada waktu yang belum lama ini. Seorang ayah membunuh pelaku sodomi pada putranya. Ayah sebagai pelaku pembunuhan tak pernah menyesali perbuatannya, meskipun harus medekam di dalam penjara bertahun-tahun. Sebab apa? Karena syaraf sang ayah tergores, kehormataan anak dan keluarganya terganggu. Cemburu.

Atau jika kita menengok ke belakang, cemburunya Mahatma Ghandi ketika mengetahui putra sulungnya Motial Gandhi masuk Islam, beliau marah besar bukan kepalang. Rela berpuasa hingga mati, agar anaknya kembali kepada Hindu.

Lalu juga seperti pimpinan Mumammadiyah kala itu, Ki Bagoes Hadikoesoemo yang marah besar kepada kelompok nasionalis yang mengganti butir-butir piagam Jakarta yang harusnya menjadi dasar negara menjadi teks pancasila sekarang ini.

Begitulah harusnya ekspresi cemburu muncul pada hati kita. Apabila syaraf kita terganggu maka cemburulah!

Maka kawan-kawan cemburulah terhadap oknum-oknum, yang telah menggores hati; yang telah membuat ibu pertiwi menangis!

Selanjutnya bagaimana dengan harga diri kita sebagai pemuda, atau orang bugis menyebutnya dengan ‘siri’ itu?

Disebutkan dalam pepatah melayu, “Arang tercoreng di kening, malu tergores di muka.” Dalam pepatah minang, “musuh jangan dicari-cari, bertemu pantang dielakan.”

Atau dalam syair Makassar yang artinya,
“Bila perahuku telah berlayar,
Dia tidak mengenal pulang lagi
Biar patah tiang di laut
Lebih baik tenggelam daripada pulang”

Siri atau harga diri adalah nilai adat dan budaya asli bangsa Indonesia, dan setiap pemuda, dan mahasiswa sebagai generasi penerus harus mempunyai dan mewarisi hal tersebut!

Maka melihat terhadap realitas dan persoalan bangsa hari ini, sudah semestinya siri, harga diri kita semua sebagai pemuda dan pemilik saham tertinggi bangsa, harusnya bergetar, tergores!

Marilah belajar mengekspresikan siri itu, seperti Raja Haji dari Riau yang melawan penjajah Belanda kala itu. Meskipun Raja Haji tahu kekuatan Belanda yang begitu luar biasa dan tak sebanding. Raja Haji tetap keluar dari pertahanannya, menuju ke muka melawan penjajah. Kitab di tangan kiri, dan sebilah badik di tangan kanan! Dan akhirnya beliau meninggal dunia dalam pertempuran, serta mendapat gelar; Yang Dipertuan Muda Raja Haji atau Almarhum Syahid Sabilillah Teluk Ketapang. Itulah siri harga diri dalam mempertahankan bangsa!

Maka cemburulah kita semua sekarang ini, melihat permasalahan-permasalahan bangsa. Dan pertahankan siri; harga diri kita sebagai pemuda! Sebagai rakyat! Sebagai pemilik saham tertinggi bangsa Indonesia ini!

Karena cemburu adalah syarat manusia hidup, dan siri adalah nilai adat istiadat, karakter dan juga akhlak.

Maka katakanlah kepada para penguasa, kepada para oknum yang merusak bangsa ini, dan membuat ibu pertiwi menangis:

“Matam papuang temukku, tem matam papuang gajakku!

Mulut ku bisa mengatakan, Tuan, tetapi badik yang tersisip di pinggangku tidak pandai mengatakan tuan!”

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia!

Tags: