Politik Bukan Pilihan?

Oleh : Sayyidah Ummu Syahidah

Di tahun 2018 ini pesta demokrasi terjadi secara besar-beasaran, sekitar 171 daerah di Indonesia yang akan melangsungkan pemilihan kepala daerah secara serentak. Lantas saja hal ini merupakan langkah awal perbaikan dari Indonesia itu sendiri. Mau tak mau, suka tak suka sebagai rakyat kita harus jeli untuk memilih. Kita dipaksa untuk lebih sering membaca berita-berita terkait politik jika ingin mendapatkan pemimpin yang terbaik. Ibarat suatu pernikahan, untuk mendapatkan pasangan hidup yang sesuai kriteria lantas kita harus mencari tahu terlebih dahulu mengenai calon pasangan kita. Kira-kira seperti itulah kondisi yang terjadi di Indonesia saat ini.

Jelas saja jika masyarakat dituntut lebih terkait hal-hal berbau politik di tahun ini. Karena jika salah memilih maka penyesalan lah yang akan didapatkan. Belum lagi pemilihan presiden yang sudah semakin dekat. Pemilihan kepala daerah tahun ini juga akan berpengaruh pada pemilihan presiden tahun depan. Partai-partai politik sudah mulai mengamati, calon seperti apa yang didambakan oleh masyarakat. Sebagai masyarakat kita tentu harus lebih berhati-hati untuk memilih. Jangan sampai kita terbuai oleh janji-janji manis mereka saat kampanye.

Jadi, apa yang dimaksud dengan politik bukan pilihan ? Politik bukan pilihan disini dimaksudkan bahwa siapa pun kita, baik pelajar, mahasiswa, guru, petani, nelayan, dokter, pns, atau apapun itu kita tetap harus memahami politik. Walaupun pekerjaan kita tidak berkaitan dengan politik sedikit pun. Seburuk-buruknya buta adalah buta politik. Mengapa ? Karena masa depan bangsa berada di tangan perpolitikan. Bagaimana nasib bangsa ini jika kita sendiri tidak mau berpartisipasi dalam kegiatan politik seperti pemilu. Sebagai mana kutipan kata-kata Mohammad Natsir “…..Kalau saudara-saudara buta politik, saudara-saudara akan dimakan oleh politik.”. So, yuk kita melek politik.

 

Rate this article!
Politik Bukan Pilihan?,3.67 / 5 ( 3votes )
Tags: