Psikolog UI : Kampus Makin Menjelma Menjadi Menara Gading

ilustrasi: gedung rektorat ui di malam hari

ilustrasi: gedung rektorat ui di malam hari

KanalMahasiswa.Com – Kampus adalah sebuah sarana untuk mengasilkan para agen perubah bagi bangsa ini. Namun keberadaan kampus hari ini sudah jauh dari apa yang diharapkan.

Sebagaimana dilansir oleh beritasatu (Jum’at, 5 Februari 2015), Sosiolog Universitas Indonesia Imam B Prasodjo mengkhawatirkan fenomena saat ini yakni kampus Universitas Indonesia yang berkembang menjadi menara gading.

Hal ini, kata Imam, adalah perumpamaan yang berarti bahwa sebuah kampus karena aktivitasnya kini makin terpisahkan jauh dari realitas sosial di sekitarnya.

Kampus akan menjadi semakin sulit diharapkan untuk dapat member kontribusi kreatif pada penyelesaian masalah-masalah sosial.

Kekhawatiran ini, kata Imam, bukanlah ilusi karena saat ini dirinya sudah banyak mendengar kritik dari luar kampus bahwa program-program kampus banyak yang monoton dan kurang memberi inspirasi. Semangat kedermawanan yang sebenarnya selalu tumbuh di kalangan mahasiswa tak tersalurkan dengan baik ke dalam program-program sosial inovatif.

“Ini karena pilar pengabdian masyarakat tak dijabarkan secara serius dalam kurikulum pengajaran ataupun program ekstrakurikuler kampus. Akibatnya, bentuk kegiatan sosial di kalangan mahasiswa tak beranjak dari kegiatan bakti sosial biasa yang bersifat karitatif seperti pembagian nasi bungkus, kegiatan donor darah, sunatan missal,” ujar Imam dalam acara Dies Natalis Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia, Senin (1/2) di Auditorium Juwono Sudarsono FISIP UI, Depok, Jawa Barat.

Kegiatan semacam ini, kata Imam, sangat mulia namun miskin gagasan dan tidak memberi inspirasi baru dan tak bisa menjadi bagian dari solusi dalam menyelesaikan masalah sosial mendasar. Bila pola kegiatan semacam ini tak mengalami perubahan, sulit diharapkan akan tumbuh jiwa kewirausahaan sosial dari kampus.

Sebab tak ada ruang untuk melatih jiwa, melatih komitmen untuk bekerja menciptakan gagasan-gagasan penanganan sosial baru, mencoba berpikir out of the box, dan bersemangat mendobrak tatanan ketidakadilan sosial yang tengah berjalan.

“Kampus harus kembali pada fungsinya yang benar yakni mengembangkan sivitas akademika yang inovatif, responsif, kreatif, terampil, berdaya saing, dan kooperatif melalui pelaksanaan tridharma perguruan tinggi,” tegas Imam.

Hal yang harus dilakukan, lanjut Imam, adalah dengan menengok kembali konsep awal Pengabdian Pada Masyarakat yang dimaksud dalam Tridharma Perguruan Tinggi. Kegiatan sivitas akademika yang memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memajukan kesejahteraan masyarakat dan mencerdaskan kehidupan bangsa harus diintegrasikan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bersifat tepat guna, dapat dirasakan masyarakat manfaatnya, dan tidak merusak lingkungan.

Selain itu juga dapat dilakukan dengan memaksimalkan peran ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang dan upaya pengintegrasian berbagai disiplin ilmu yang mutlak harus dilakukan. Kompleksitas masalah sosial yang dihadapi saat ini memerlukan cara-cara baru dan terobosan baru dengan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang lebih integratif, koordinatif, dan transformatif.

“Sinergi perlu dibangun dengan lembaga pemerintah, pelaku bisnis, dan lembaga swadaya masyarakat. Sinergi harus dibangun dalam pembiayaan program, saling tukar keahlian, saling tukar pengalaman. Saya berkeyakinan, inovasi sosial akan berkembang di kampus-kampus di seluruh Indonesia bila ada dobrakan semacam ini. Bila berhasil dilakukan maka masyarakat luas pun akan mengakui bahwa keberadaan kampus memang berguna secara langsung bagi mereka,” pungkas Imam.

 

 

Tags: