RESOLUSI TAHUN BARU: KLISE?

siluet-orang-shalat-2Sumber : Google

It’s that time for “new year, new me” again.

Kalimat yang sudah menjadi klise untuk sebagian orang, tapi masih menjadi simbol sebuah harapan baru bagi sebagian yang lain. Tanpa disadari, kita cenderung mengakhiri atau mengawali sesuatu di awalan-awalan periode waktu tertentu. Misalnya, mahasiswa atau pelajar bertekad akan belajar lebih giat, dimulai dari hari pertama semester depan. Atau seseorang yang berjanji akan berhenti merokok di akhir bulan ini dan mulai hidup sehat dari tanggal 1 bulan berikutnya. Dan banyak lagi contoh-contoh lain yang mungkin sekarang muncul di pikiranmu karena kamu pernah atau bahkan sering mengalaminya. Satu contoh lagi yang terpopuler dan terdekat adalah resolusi tahun baru. Tidak jarang tekad atau resolusi yang dibuat hanya sekedar menjadi wacana atau mulai terlupakan di bulan Februari, untuk kemudian muncul tekad baru. Sehingga terbentuk pola berulang. Banyak yang seperti tidak kapok membuat resolusi di setiap awal tahun baru, padahal resolusi di tahun sebelumnya pun seluruhnya belum terealisasi. What’s really going on here?

 

Dunia psikologi dapat menjelaskannya. Hengchen Dai, Katherine Milkman, dan Jason Riis, tiga psikolog Universitas Pennyslvania pada tahun 2013 menggagas tiga macam penelitian yang  beraitan dengan fenomena tersebut. Hasil dari penilitan, muncullah teori “fresh start effect” atau “efek awalan baru”. Penelitian pertama sangat sederhana. Dai dan timnya memeriksa arsip Google untuk melihat kapan biasanya orang mengetik kata kunci “diet”. Tidak mengejutkan, hasil penelitian menunjukkan peningkatan sebesar 82% pada momen tahun baru. Ada juga peningkatan yang lebih kecil terjadi saat awal minggu, bulan, dan setelah masa liburan tertentu.

 

Lalu apakah orang-orang benar-benar mengikuti apa yang mereka temukan di Google? Di penelitian kedua, para peneliti mengecek arsip sarana olahraga universitas dan menemukan tingkat kehadiran cenderung naik saat awal tahun baru, bulan, dan minggu. Mahasiswa juga lebih giat berolahraga di awal semester, di hari pertama setelah liburan, dan setelah hari ulang tahun. Sementara penelitian ketiga menggunakan data dari laman stickK.com dimana orang-orang membuat “kontrak komitmen” yang merupakan sebuah perjanjian untuk mencapai suatu tujuan atau harus membayar denda yang ditunjukkan untuk teman atau badan amal. Kontrak-kontrak baru cenderung dibuat pada awal minggu, bulan, tahun, setelah liburan, dan hari ulang tahun.

 

Ada beberapa teori dibalik fenomena tersebut. Pertama, di momen akhir tahun, kita cenderung menilik betapa waktu berlalu begitu cepat. Terasa baru kemarin membeli kalendar baru, tapi nuansa pergantian tahun sudah kembali muncul. Kemudian kita juga mulai memikirkan apa saja yang sudah kita lakukan dan berhasil capai di sepanjang tahun terakhir. Pergantian tahun menjadi momen titik balik atau turning point yang mendorong kita untuk memikirkan hidup kita, baik kelakuan maupun kebiasaan. Kebanyakan akan merasa belum puas atas dirinya sendiri dan timbul kesadaran untuk mengubah kebiasaan-kebiasaan buruk agar tahun depan dapat mendulang sukses lebih besar. Awal tahun dianggap momen yang paling pas untuk memulai sesuatu yang baru. Oleh karena itu, banyak yang membuat daftar panjang target-target yang ingin dicapai di tahun depan. Mulai dari target jangka panjang seperti peningkatan karir atau yang sederhana seperti menurunkan berat badan atau mulai menabung. Sebagaimana yang Dai dan timnya laporkan bahwa “orang cenderung bertindak untuk mencapai sebuah tujuan setelah jangka waktu tertentu yang mewakili awalan-awalan baru.”

Kedua, Dai dan timnya mengatakan bahwa secara psikologi, tahun baru merupakan sebuah momen yang dapat menyebabkan orang untuk memisahkan diri mereka dari masa lalu mereka yang penuh dengan kebiasaan buruk dengan mereka yang baru, yaitu mereka yang menjadi terinspirasi untuk berubah. Awalan baru dapat mendorong imej baru mereka untuk membentuk ulang diri mereka.

 

Jadi, resolusi tahun baru bukan sekedar ritual klise, secara psikologi, telah terbukti bahwa momen pergantian tahun dapat memotivasi orang untuk memulai perubahan-perubahan positif agar menjadi pribadi yang lebih baik.

 

Tapi, apakah harus menunggu 1 Januari? Tentu saja tidak. Tidak perlu menunggu tahun baru untuk merefleksikan hidup dan mengoreksi kebiasan-kebiasaan buruk kita. Tidak usah menunda-nunda. Setiap pagi merupakan “fresh starts effect”. Setiap hari baru merupakan kesempatan untuk berubah memperbaiki diri dan membuat target baru. Mulailah dari target-target yang realistis. Dengan begitu, tekad untuk mencapai target-target tersebut akan selalu ter-upgrade.

 

“It’s never too late to start over. If you weren’t happy with yesterday, try something different today. Don’t stay stuck, do better.” –unknown

(lmi)

Rate this article!
Tags: