Sinergi Pancapusat Pendidikan Menuju Indonesia Madani

jembatan sekolah

ilustrasi : di daerah anak-anak bertaruh nyawa demi pergi ke sekolah

 

Masalah pendidikan di Indonesia dalam pemberitaan di berbagai media baik media sosial maupun  informasi sangat memprihatinkan. Bahkan kebijakan-kebijakan pendidikan yang pemerintah canangkan tidak mampu memberikan kualitas sumber daya manusia Indonesia menjadi unggul. Dampak masalah pendidikan di Indonesia telah banyak mempengaruhi masyarakat. Pendidikan sekarang tidak dapat memanusiakan menjadi “manusia” seutuhnya. Berdasarkan data Komisi Perlindungan anak, terdapat 781.000 kasus kekerasan anak setiap tahun atau setiap satu sampai dua menit terjadi kekerasan terhadap anak di Indonesia (Harry Hikmat,2004). Fenomena terkait kekerasan pada anak merupakan produk kegagalan pendidikan di Indonesia. Fenomena tersebut jika tidak ditangani segera oleh pemerintah melalui kebijakan yang tepat akan berdampak terhadap kualitas pendidikan. Sementara itu, belum ada data lengkap tentang sexual abused. Namun, berdasarkan pemantauan terhadap 13 media cetak selama tahun 1994-1997 (Hastuti,2015), YKAI melaporkan adanya 538 kasus perlakuan salah secara seksual, 80 kasus perlakuan salah secara fisik, 63 kasus penelantaran, dan lima kasus perlakuan salah secara emosional. Pelaku child abuse tersebut adalah orang yang dikenal anak (66%), termasuk orang tuanya sendiri. Untuk kejahatan seksual, misalnya terdapat 289 kasus pada tahun 1996 di mana pelaku adalah ayah (19 kasus) dan guru (118 kasus).
Fenomena lainnya masih terdapat anak-anak yang belum merasakan pendidikan tinggi karena beban ekonomi dan waktunya lebih banyak dihabiskan membantu orang tua. Salah satunya, yang terjadi di sebagian besar anak-anak nelayan di Muara Angke, Jakarta Utara, tidak bisa merasakan pendidikan tinggi karena beban ekonomi dan waktunya lebih banyak dihabiskan membantu orang tua (Indriani, 2015). Memang, kebijakan pemerintah saat ini banyak mengeluarkan program beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke universitas. Akan tetapi, seringkali kebijakan program beasiswa ini tidak tepat sasaran dan hanya mengacu pada anak-anak yang berprestasi di bidang akademis.
Pendidikan merupakan modal pembangunan sebuah negara. Pendidikan juga merupakan dasar untuk mencetak generasi-generasi yang berkualitas. Sehingga berbagai kebijakan dan program untuk bidang pendidikan tidak bisa dirancang tanpa analisis yang mendalam. Tonggak sejarah pendidikan pun seharusnya tidak bisa diwarnai oleh kepentingan politik pemerintah yang menguntungkan kelompok tertentu. Sebagai contoh perubahan kebijakan yang berkaitan dengan kurikulum yang berubah dan memberikan dampak bagi guru atau pendidik di lapangan yang masih bingung terhadap implementasinya. Dari berbagai fenomena permasalahan yang terjadi dalam dunia pendidikan di Indonesia, pemerintah perlu untuk merevitalisasi kebijakan pendidikan. Arah kebijakan pendidikan yang tepat akan menjadikan Indonesia Madani di tahun 2045. Konsep Indonesia Madani merupakan sebuah cita-cita untuk membentuk keseimbangan dalam dunia pendidikan yang melibatkan peran  keluarga, institusi pendidikan, masyarakat,  negara, dan dunia global.
Mengadopsi pemikiran Tilaar dalam buku “Pedagogik Kritis untuk Indonesia”, Tilaar membawa sebuah terobosan gagasan berpikir dalam kemajuan era globalisasi saat ini. Tilaar menyebutkan bahwa arah pendidikan Indonesia perlu direvitalisasi dari konsep Tripusat ke arah Pancapusat pendidikan.  Salah satu tokoh pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara telah mengemukakan gagasannya mengenai Tripusat Pendidikan, yaitu keluarga, sekolah, dan gerakan kepemudaan. Menurut Ki Hadjar Dewantara masing-masing pusat pendidikan tersebut mempunyai tujuannya yang khas, namun tetap berhubungan satu dengan yang lain (Tilaar,2015).
Perlunya memahami secara seksama tentang makna dari prinsip Tripusat Pendidikan yang mempunyai arti secara khusus, sebagai warisan konsep pendidikan pada masa lalu untuk menentang sistem pengajaran kolonial yang menjajah peradaban Indonesia sekitar 350 tahun. Oleh karena itu, memahami makna dari prinsip Tripusat Pendidikan akan membawa konsep berpikir kita ke dalam ranah masa lalu sejarah pendidikan Indonesia. Sehingga sinergitas dari pemikiran Tilaar dapat menjadi pertimbangan bagi pemerintah untuk mewujudkan Indonesia Madani.
1.    Pendidikan dalam Keluarga
Manusia merupakan makhluk sosial. Melalui rasa sosial yang dimiliki, manusia dapat hidup secara bersama-sama untuk melanjutkan hidupnya dan melestarikan keturunannya. Tanpa hal tersebut, manusia tidak akan mampu membentuk sebuah komunitas yang dinamakan masyarakat. Melalui hidup bermasyarakat, manusia mulai membangun sebuah tatanan kehidupan yang disebut kebudayaan. Sudah fitrah manusia, bahwa manusia merupakan makhluk yang memiliki keberadaan di dunia dan membentuk sebuah kebudayaan berdasarkan letak geografis tempat tinggalnya. Sebagai contoh, naluri sosial seorang ibu di dalam keluarga adalah titik tolak dari kehidupan manusia. Oleh sebab itu, hubungan antara pendidikan dan kebudayaan bertitik tolak dari naluri keibuan di dalam keluarga dalam mempertahankan eksistensi hidup manusia. Bahkan, Ki Hadjar Dewantara telah menyatakan “menghidupkan, menambah, dan menggembirakan perasaan kesosialan tidak akan dapat terlaksana jika tidak didahului oleh pendidikan diri” (Tilaar,2015).
Pendidikan dalam keluarga merupakan  lingkungan pendidikan yang pertama dan terpenting. Posisi ibu sebagai guru pertama bagi anak dalam kehidupannya,  dapat diibaratkan sebagai alat penyemai benih-benih calon pemimpin peradaban di masa mendatang dan ayah sebagai kepala sekolah dalam keluarga. Sedangkan, dalam konsep Islam, terdapat beberapa kriteria yang ditawarkan oleh Mahmud, dkk dalam memilih pasangan hidup terutama calon isteri, di antaranya; 1) agamanya baik (beragama Islam), 2) memiliki akhlak yang baik, 3) memiliki fisik yang baik, 4) memiliki kehormatan, keturunan, dan kehormatan yang baik, 5) maharnya tidak mahal dan tidak memberatkan, 6) berasal dari keluarga jauh, 7) mengutamakan gadis perawan, 8) mengutamakan wanita yang subur, 9) lemah lembut dan pengasih, 10) taat dan dapat dipercaya, 11) berperangai tenang dan bersuara lembut, 12) pandai memasak dan merawat rumah, 13) bersikap tulus dan sabar, 14) sedikit bicara dan tidak membocorkan rahasia, 15) rajin beribadah (Mahmud,dkk,2013).
Pendidikan dalam keluarga merupakan pondasi dasar pendidikan. Di dalam keluarga terdapat empat komponen yang menunjukkan berjalannya struktur keluarga, yaitu pembagian tugas (divisson of labor) siapa yang bertanggung jawab di keluarga, peraturan perilaku (rules of behavior) apa sajakah aturan dan harapan yang diinginkan setiap anggota keluarga, peran atau fungsi keluarga (family roles), perilaku yang diharapkan dilakukan ayah, ibu, anak, dan anggota keluarga lain, dan hierarki kekuasaan (power hierarchy), distribusi kekuasaan antara orang dewasa di dalam keluarga (Astuti, 2015). Sehingga tugas dan peran keluarga sebagai dasar pendidikan bagi anak merupakan hal urgensi untuk membentuk anak menjadi generasi yang membanggakan.
Anak merupakan dua hal yang dapat dipahami mendalam sebagai “anugerah atau malapetaka”. Karena anak yang baru lahir membawa segenap potensi yang perlu difasilitasi oleh keluarga. Berdasarkan penelitian telah dilakukan oleh para ahli di mulai dari Binnet Simon (1908-1911) hingga Goward Gardner (1998) yang berbicara pada fokus yang sama yaitu fungsi otak sebagai kecerdasan seseorang (Wijana,dkk,2014). Sehingga anak dapat menjadi anugerah bagi keluarga yang dapat memfasilitasi setiap periode perkembangan anak hingga dewasa. Apabila keluarga tidak memahami kebutuhan dan periode perkembangan anak, maka ketika anak menjadi pribadi yang jauh dari nilai kebaikan itulah malapetaka keluarga.  Dengan demikian, dapat dikatakan yang merupakan pusat pertama pendidikan yang fundamental yaitu keluarga. Keluarga adalah tonggak penting dalam penentu kualitas pendidikan di Indonesia.
2.    Lembaga Sekolah sebagai Pusat Pendidikan
Di dalam masyarakat yang mulai berkembang dan memiliki perbedaan secara lahiriah yang disebut sebagai lembaga sekolah. Secara umum, di Indonesia lembaga-lembaga tersebut terdapat di dalam semua suku bangsa dengan nama yang berbeda-beda. Sekolah sebagai lembaga pendidikan dalam masyarakat berkembang dengan memiliki fungsi dan tujuan khusus. Lembaga sekolah merupakan lembaga  untuk pengembangan intelektual anak serta aspek-aspek perkembangan lain seperti pengembangan moral, emosional, jasmani, dan pendidikan agama. Berkaitan dengan pendidikan agama, keluarga merupakan tiang utama di dalam pusat pendidikan di sekolah. Oleh karena itu, pendidikan agama yang diadakan disekolah hanya sebagai pelengkap dari pendidikan agama yang sudah diperoleh anak di dalam keluarga (Tilaar,2015).
Dengan adanya sinergi antar lembaga sekolah dan keluarga akan membantu anak berkembang secara optimal. Artinya, kurikulum yang diajarkan di sekolah kepada anak sudah tentu harus juga diajarkan di dalam keluarga. Kolaborasi yang komunikatif antar dua pusat pendidikan tersebut memiliki dampak yang sangat baik terhadap anak dalam bersosialisasi dan mengembangkan aktualisasi diri dengan lingkungan sekitar. Hal tersebut dapat dilakukan dalam ranah pendidikan pertama yaitu pendidikan anak usia dini (PAUD). PAUD merupakan pondasi awal bagi keberhasilan anak di masa mendatang. Karena pada masa tersebut, dikatakan dari hasil penelitian para ahli syaraf bahwa anak pada usia 0-6  tahun memiliki milyaran jaringan syaraf yang mampu merekam pengalaman belajar yang diberikan oleh guru maupun orang tua. Masa ini juga disebut sebagai golden age (masa keemasan). Apabila pondasi di masa ini bagus dan matang, maka anak akan memiliki kesiapan belajar pada tingkat pendidikan selanjutnya (Aisyah, 2012).
Hal tersebut dapat dilakukan melalui institusi PAUD yang senantiasa mensosialisasikan pentingnya periode perkembangan bagi anak usia dini dan pola asuh yang tepat pada orang tua/wali murid. Karena dengan melalui periode perkembangan yang tepat dan pola asuh yang baik akan membantu anak untuk melanjutkan jenjang pendidikan selanjutnya.
3.    Masyarakat sebagai Pusat Pendidikan
Masyarakat memiliki keterkaitan dengan pendidikan. Sebagai makhluk sosial, seorang anak Indonesia dilahirkan di dalam tatanan keluarga sebagai anggota masyarakat. Anak yang telah memasuki tahap remaja maupun dewasa memiliki peran signifikan dalam masyarakat. Melalui masyarakat, para pemuda/i membentuk komunitas gerakan yang menunjukkan bukti eksistensi diri. Inilah yang dikatakan masyarakat sebagai pusat pendidikan. Dalam ranah pendidikan, dapat dipahami bahwa masyarakat pertama-tama yang dihadapi oleh anak adalah masyarakat sukunya sendiri. Karena Indonesia memiliki ratusan suku bangsa dengan budayanya sendiri (Tilaar,2015).
Berbicara tentang budaya, makna multikulturalisme di dalam masyarakat Indonesia merupakan kekayaan yang luar biasa dimiliki oleh bangsa Indonesia. Setiap kebudayaan dari suku bangsa mempunyai nilai-nilai yang beragam atau kita kenal kebhinekaan terdapat pada apa yang disebut puncak-puncak kebudayaan lokal. Puncak-puncak kebudayaan lokal adalah nilai-nilai luhur dari suatu masyarakat yang dapat disumbangkan di dalam terbentuknya kesatuan masyarakat dan budaya Indonesia dan Negara Indonesia.

 

 
Puncak-puncak kebudayaan tersebut memiliki sebuah kearifan budaya lokal (local wisdom) yang mempunyai nilai pedagogis yang bertujuan untuk mengatur perilaku yang bermanfaat bagi kepentingan bersama masyarakat. Sebagai contoh, kearifan budaya lokal pada masyarakat sederhana masih menghubungkan dengan dunia mistis. Sebagai contoh, misalnya sebatang pohon beringin dianggap angker dalam hutan karena dianggap sebagai suatu tempat berdiamnya penghuni makhluk gaib.  Oleh karena itu, dilarang untuk menebang pohon tersebut ataupun diusik. ternyata pohon beringin tersebut merupakan pelindung dari hutan yang menyediakan air bagi masyarakat.Kemudian, di dalam dunia yang semakin modern sekarang banyak kearifan budaya lokal mulai ditinggalkan karena dianggap bersifat mistik, tidak rasional bahkan dianggap menghalangi nilai modal dalam masyarakat modern. Sebagai contoh, kerusakan lingkungan yang terjadi di Papua oleh PT Freeport oleh aktivitas penambangan emas terbesar di dunia. Menurut mitologi orang Papua bahwa pegunungan Jayawijaya yang diliputi es merupakan kepala dari seorang putri yang cantik. Tubuh sang putri tersebut dihiasi oleh hutan rimba yang subur serta anggota tubuhnya seperti kaki dipercaya berada di lembah-lembah menuju laut Arafuru. Tetapi, yang terjadi di Papua adalah badan putri yang cantik itu diobrak-abrik oleh tambang yang besar serta sungai-sungainya menjadi warna coklat karena limbah dari aktivitas tambang. Dampaknya selain kerusakan lingkungan, para suku yang tinggal di gunung kehilangan mata pencahariannya. Sehingga orang Papua menjadi hidup dalam kemiskinan (Tilaar,2015).
Konsep masyarakat sebagai pusat pendidikan menitikberatkan pada peran dan fungsi masyarakat dalam mengelola lingkungan sebijak mungkin. Lingkungan yang dikelola dengan baik akan memberikan pengaruh dampak pendidikan yang baik pula. Lingkungan masyarakat sangat tidak tepat apabila dikelola secara penuh oleh pihak asing. Hal tersebut memberikan dampak dan permasalahan sosial yang hingga sekarang tidak dapat diselesaikan. Bahkan, dapat terjadi konflik-konflik kecil yang akan menjadi bencana nasional. Dengan demikian,  masyarakat yang berfungsi sebagai pusat pendidikan hendaknya diberikan kompetensi untuk melakukan pengelolaan lingkungan yang tepat dan sesuai dengan kemajuan teknologi.
4.    Negara sebagai Pusat Pendidikan
Pengembangan rasa kebangsaan bagi anak Indonesia dewasa ini perlu dikaji lebih mendalam karena beberapa survei menunjukkan telah terjadi penurunan rasa kebangsaan pada peserta didik di seluruh jenjang pendidikan. Akar dari kemerosotan tersebut bukan hanya dikaji pada institusi pendidikan, tetapi juga peran serta keluarga dan masyarakat dan  pemerintah. Anak dewasa saat ini yang hidup di dalam dunia terbuka dapat dengan mudah dipengaruhi oleh ideologi-ideologi ekstrim yang dapat mengganggu identitas sebagai warga negara Indonesia. Kunci untuk mengembangkan rasa kebangsaaan bagi anak Indonesia serta menolak ideologi ekstrim yang bertentangan dengan Pancasila ialah melalui jalur pendidikan.  Kita perlu memahami bahwa ideologi Pancasila telah digali oleh Bapak Proklamator Indonesia, Bung Karno dari kebudayaan suku-suku bangsa di Nusantara serta keberadaan suku-suku bangsa tersebut. Negara Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki banyak pulau dengan keadaan geografis, demografis, dan kebudayaan yang beraneka ragam. Dasar inilah yang menjadikan semboyan bangsa Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika. Artinya suku-suku bangsa yang berada di kepulauan Nusantara mempunyai budaya beragam, tetapi bersatu sebagai suatu bangsa melawan kekuasaan penjajah dan membentuk satu negara yang merdeka serta diikat oleh ideologi Pancasila (Tilaar,2015)
Negara Indonesia merupakan bangsa besar yang menghimpun kekuatan kemampuan atau keunggulan-keunggulan yang terdapat dari suku-suku anggota. Sebagai contoh, penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Merujuk pada pemaparan Ki Hajar Dewantara di dalam Kongres Pendidikan Kolonial yang diselenggarakan di Belanda pada Tahun 1916 yang  mengemukakan mengapa bukan bahasa Jawa yang dijadikan bahasa persatuan. Ternyata bahasa Melayu merupakan lingua franka di dalam komunikasi, terutama di dalam komunikasi dalam dunia perdagangan dari suku-suku. Oleh sebab itu, kesatuan bangsa Indonesia tidak ditentukan oleh jumlah penduduk dari suku-suku, tetapi lebih dari kegunaan komparatif dari milik suatu suku. Dengan kata lain, demokrasi yang dikembangkan oleh bangsa Indonesia adalah demokrasi yang berbentuk gotong royong dan bukan setengah tambah satu (Tilaar,2015).
Akan tetapi, kebijakan dan program pemerintah dalam dunia pendidikan sudah seharusnya bergeser untuk melakukan evaluasi.Karena kebijakan yang dirasakan sekarang tidak mampu memberikan keseimbangan antar pemerintah pusat dan daerah. Pemerintah daerah hingga saat ini masih merasakan kurangnya ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai, kualitas pendidik atau guru yang jauh dari harapan, dan kesejahteraan para guru atau pendidik baik yang pns maupun non pns yang kurang diperhatikan. Sementara, ketersediaan sarana prasarana, kualitas guru atau pendidik di pemerintah pusat lebih maju dari pada pemerintah daerah. Tentunya pemerintah perlu segera mengupayakan perbaikan seluruh elemen institusi pendidikan dan membuat kebijakan yang memang berbasis pada permasalahan sosial di negara.
Dengan demikian, negara sebagai pusat pendidikan memiliki peran penting untuk mempersatukan seluruh elemen-elemen pemersatu dari berbagai daerah melalui kebijakan yang telah dirumuskan berdasarkan ideologi Pancasila. Kebijakan yang berkeadilan dan memberikan kesempatan kepada siapa saja untuk mengenyam pendidikan. Tanpa memandang status sosial, suku, dan latar belakang keluarga. Agar tidak ada lagi anak-anak Indonesia yang putus sekolah, masyarakat yang buta huruf, dan masalah sosial.
 
5.    Dunia Global sebagai Pusat Pendidikan
Saat ini, dunia sedang mengglobalisasi. Dunia diibaratkan seperti satu kampung besar. Akibat kemajuan teknologi khususnya teknologi komunikasi serta hubungan-hubungan antar manusia melalui alat transport yang semakin murah dan cepat, maka hubungan antar manusia seakan tidak mengenal batas negara.
Dunia yang mengglobalisasi membawa ledakan perubahan yang besar-besaran dalam gelombang kehidupan manusia. Perubahan tersebut ada yang memberi pengaruh positif dan ada pula yang memberi pengaruh negatif. Sebagai contoh,  bangsa Indonesia yang memiliki ikatan regional dengan negara lain yang diikat dalam organisasi ASEAN.  Bahkan, catatan sejarah telah mencatat bahwa organisasi ASEAN dilahirkan oleh pemimpin-pemimpin Indonesia. Program yang kini sedang dihadapi oleh Indonesia dan ASEAN adalah program MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN). Lahirnya program tersebut  tentunya banyak memberikan  manfaat berupa kerja sama  oleh masing-masing anggota. Namun, perlu dipahami bersama bahwa MEA bukanlah arena kompetisi, melainkan bentuk kerja sama anggota ASEAN (Tilaar,2015).
Fenomena MEA ini ternyata selain membawa pengaruh positif dalam kerja sama dengan anggota ASEAN juga membawa pengaruh negatif dalam bidang ekonomi dan kebudayaan. Sebagai contoh, dalam bidang ekonomi, yang paling terkenal adalah gelombang perusahaan modal multinasional (multinational corporations). Dengan modalnya yang besar, MNC ini mampu menguasai pasar dunia. MNC pun mampu mengendalikan gaya hidup yang tercipta dari penggunaan produk-produk sesuai keinginan MNC. Dampak negatifnya adalah seseorang dapat mudah terjerumus dari gaya hidup yang tidak sesuai dengan kebudayaannya. Seseorang tersebut dapat menjadi melupakan identitas atau kebudayaannya karena membeo dengan produk-produk yang dikeluarkan oleh perusahan modal mutlinasional raksasa tersebut. Hal ini sering terjadi kepada generasi muda yang mengikuti gaya kebarat-baratan. Sementara itu, masyarakat pun juga mengalami krisis identitas. Bahaya terhadap krisis identitas juga dipengaruhi oleh revolusi dunia maya dalam dunia internet  dan sarana komunikasi lainnya.
Berkaitan dengan bahaya tersebut, tentunya dapat ditangani melalui pendidikan baik ditingkat keluarga, di bidang pendidikan formal dan informal di masyarakat, yaitu dalam peran pemimpin-pemimpin masyarakat yang masih memiliki identitasnya. Melalui pendidikan yang bersinergi dengan pancapusat pendidikan, akan lahir sikap bangga terhadap bangsa Indonesia. Hal tersebut diwujudkan dengan perilaku menggunakan produk dalam negeri dan pihak produsen berupaya meningkatkan kualitas produksi dengan menggunakan teknologi tepat guna serta kompetensi mengelola produk-produk dalam negeri. Selain itu, dunia global sebagai pusat pendidikan dapat dikatakan sebagai “jembatan” bagi anak-anak Indonesia mengenal keanekaragaman budaya dan mengembangkan aktualisasi diri yang bangga menjadi anak Indonesia.
Dengan demikian, gagasan sinergi pancapusat pendidikan merupakan jawaban dari berbagai permasalahan pendidikan dan sosial di Indonesia. Melalui berbagai peran dan keterlibatan pihak seperti keluarga, sekolah, masyarakat, negara, dan dunia globalisasi saat ini akan mampu menuju Indonesia Madani. Indonesia yang diharapkan memiliki peradaban yang lebih baik dalam membangun dan memaknai perjalanan sejarah bangsa ini agar semakin maju dan beradab. Tentunya barometer menuju Indonesia Madani tidak bisa diukur sekarang. Karena semua berawal dari keluarga sebagai pusat pendidikan pertama bagi kehidupan manusia. Tonggak keberhasilan mewujudkan Indonesia Madani terdapat pada pusat pendidikan pertama, yaitu keluarga.

 

 

 

Oleh: Fahrul Rozie,S.Pd
(Mahasiswa Pasca Sarjana Jurusan PAUD UNJ dan Pegiat Komunitas Siroh Kampus)

 

 

Tags: