Student Loan: Akankah Menjadi Solusi?

 

Sumber : Google.com

“Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak memperoleh pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.” Undang-Undang Dasar Pasal 28 C Ayat (1)

Berbicara tentang pendidikan, berarti kita harus berbicara tentang landasan hukum terlebih dulu. Hal tersebut didasari pada fakta bahwa pendidikan merupakan salah satu hak dasar warganegara yang dijamin oleh pemerintah (baca: UU No. 20 Tahun 2013 Bab IV Pasal 5 ayat (1) dan (5)).

Presiden Jokowi pada Maret lalu meminta perbankan mengeluarkan produk finansial baru berupa student loan atau kredit pendidikan. Student loan dikhususkan untuk warga Indonesia yang ingin mengenyam bangku kuliah namun terhalang oleh biaya. Niat baik Presiden harus tetap kita apresiasi, namun pertanyaannya, apakah anak-anak Indonesia harus berhutang terlebih dulu untuk mendapatkan hak dasarnya yang dijamin konstitusi negara (baca: pendidikan)?

Student loan bukanlah barang baru di dunia pendidikan terutama di negara-negara maju seperti AS, Inggris, dan Uni Eropa. Data Yale University mengungkapkan bahwa tahun lalu rata-rata hutang student loan di Amerika sekitar 37 ribu dollar AS dan 55 ribu dollar AS di Inggris. Swedia yang tidak memungut biaya untuk warganegaranya yang berkuliah pun tetap meninggalkan hutang student loan hingga 20 ribu dollar AS. Bahkan sistem ini memberikan beban bagi pemerintah Inggris hingga mencapai 100 miliar dollar AS dan di Amerika sekitar 7 juta peminjam dengan bunga 14% melewati pembayaran lebih dari 1 tahun.

Berbagai media massa internasional pun menyoroti masalah hutang student loan yang terjadi di negara-negara yang menerapkannya ini sebagai The Problem that Won’t Go Away. Lebih jauh, CNBC di https://www.cnbc.com/id/40680905 menyebutkan beberapa peminjam memilih bunuh diri dan lari ke luar negeri demi menghindari student loan mereka yang jumlahnya makin tinggi karena bunga yang terus menumpuk. Hingga saat ini, hutang student loan di negara Paman Sam mencapai 1,4 triliun dollar AS.

Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak pelajar terbantu dengan student loan, namun jika negara-negara adidaya saja malah terbelit dengan hutang yang begitu besar karena student loan, apakah Indonesia tidak ingin belajar dari negara-negara tersebut?

Jika kembali pada konstitusi kita sendiri, UUD 1945 Pasal 31 UUD ayat (3) dan (4) menegaskan bahwa pemerintah memiliki kewajiban untuk mengusahakan penyelenggaraan pengajaran nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Jika demikian, jelas pemerintah berkewajiban penuh atas pendidikan tiap-tiap warganegaranya, bukan malah membuka pintu-pintu hutang yang dapat menjadi masalah di kemudian hari.

Rate this article!
Tags: