TAHUN BARU, TEROMPET DAN KEMBANG API

gambar-tahun-baru-2017-2-800x450Sumber : Google

“Happy New Year”

Pesan yang selalu ramai didapatkan di setiap pergantian tahun Masehi, pada 1 Januari. Perayaannya pun selalu marak: setiap tahun, di berbagai negara. Kembang api dan terompet menemani penghitungan mundur menuju tahun baru. Namun, tidak banyak yang mengetahui bagaimana perayaan pergantian tahun ini dimulai.

Perubahan Penanggalan

Perayaan pergantian tahun muncul pertama kali di Timur Tengah pada 2000 SM. Dirayakan oleh penduduk Mesopotamia saat matahari tepat berada di garis Khatulistiwa pada bulan Martius (Maret), tepatnya menurut perhitungan penanggalan yaitu pada tanggal 20. Di Iran, budaya ini masih bertahan ditandai dengan perayaan Nowruz pada 20, 21, atau 22 Maret.

Abad ke-7 SM, disusun Kalender Tradisional Romawi dengan penanggalan 304 hari dalam 10 bulan dalam setahun, dan dimulai dari bulan Martius. Januarius dan Februarius ditambahkan kemudian. Pada tahun 45 SM, tidak lama setelah penobatan Julius Caesar sebagai Kaisar Roma, Kalender Tradisional Romawi diganti menjadi Kalender Julian dengan urutan bulannya: Januarius – Februarius – Martius – Aprilis – Maius – Iunius – Quintilis – Sextilis – September – October – November – December.

Pada perubahan ini, awal tahun berganti dari Martius ke Januarius. Januarius diadaptasi dari Janus, Dewa Romawi. Janus memiliki dua wajah, salah satu menghadap ke depan dan yang lainnya mengahadap ke belakang. Sesuai dengan apa yang setiap manusia lakukan setiap pergantian tahun, melihat ke belakang untuk merefleksi diri dan melihat ke depan untuk melanjutkan perjalanan hidup.

Kalender Julian diresmikan oleh Paus Gregory III sebagai penanggalan yang digunakan di seluruh Eropa pada 1582 M, yang kemudian penanggalan ini disebut Kalender Gregorian. Kalender Gregorian disebut juga Kalender Kristian karena penggunaan hari kelahiran Yesus Kristus sebagai permulaan tahun, menurut seorang pendeta Kristen bernama Dionisius. Kalender Gregorian sekarang dikenal dengan Kalender Masehi yang diadopsi dari Masehi, nama lain dari Isa Al Masih. Kalender Masehi inilah yang akhirnya dijadikan penentuan tahun baru di berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia, yaitu pada setiap 1 Januari.

Terompet Tahun Baru

Budaya meniup terompet pada pergantian tahun bermula dari bangsa Yahudi. Terompet yang digunakan bukanlah terompet kertas seperti yang beredar sekarang, namun sebuah alat musik tiup yang bernama shofar atau serunai yang terbuat dari tanduk. Tetapi suaranya sama seperti suara terompet kertas tahun baru. Shofar biasa digunakan untuk memberi tanda atau untuk mengumpulkan masyarakat Yahudi saat akan melakukan ibadah di sinagog, tempat ibadah umatnya.

Peniupan shofar pada tahun baru dilakukan bangsa Yahudi sebagai ritual keagamaan, yaitu melakukan introspeksi diri atas kesalahan yang pernah dilakukan selama setahun yang lalu. Selain itu, peniupan terompet shofar ini dipercaya dapat mengusir roh jahat. Pada zaman sekarang, peniupan terompet telah dilakukan oleh berbagai kalangan, bukan hanya bangsa Yahudi, serta telah mendunia sebagai hal yang wajib ada pada malam tahun baru.

Kembang Api dari China

Warna-warni yang dihasilkan oleh kembang api selalu menghiasi langit pada malam pergantian tahun. Dibanding terompet, kembang api adalah yang paling wajib ada pada perayaan tahun baru. Menurut kepercayaan bangsa China, membakar kembang api diharapkan dapat membakar kesialan selama setahun sebelumnya yang kemudian akan menghadirkan warna hidup yang indah pada tahun yang akan datang.

Kembang api merupakan perkembangan dari petasan. Pada abad ke-9, petasan pertama kali ditemukan dari hasil ketidaksengajaan seorang juru masak yang mencampurkan tiga bahan bubuk hitam, yaitu garam peter atau kalium nitrat, belerang (sulfur), dan arang dari kayu (charcoal) yang berasal dari dapurnya. Campuran tersebut ternyata mudah terbakar dan dapat menghasilkan ledakan. Ledakan petasan tersebut kemudian dipercaya mampu menakuti roh-roh jahat.

Pada masa Dinasti Song, industri petasan dikembangkan hingga ditemukan teknologi kembang api yang tidak hanya menghasilkan ledakan, tetapi juga menghasilkan percikan warna-warni. Petasan dan kembang api kemudian disebarkan oleh Marco Polo ke Benua Eropa. Hingga sekarang kembang api telah tersebar luas ke seluruh dunia dan selalu meramaikan keindahan malam tahun baru.

Tahun Baru, Awal Baru?

Pergantian tahun sering dijadikan sebagai masa mengintrospeksi diri, lalu tahun baru sebagai lembaran baru untuk melangkah. Namun, tidak hanya di tahun baru kita bisa memulai hal yang baru. Setiap kesempatan yang dimiliki haruslah digunakan sebaik mungkin untuk menciptakan ide yang baru dan bisa mulai deralisasikan kapan saja, tanpa menunggu tahun baru. Tahun baru hanya datang setahun sekali, sedangkan kesempatan bisa datang kapan saja. Juga kekeliruan bisa terjadi kapan saja. Sehingga tidak perlu juga menungu tahun baru untuk mengintrospeksi diri. Perbaiki kapanpun. And keep moving on!. (ma)

Rate this article!
Tags: